Sri Lanka Kejar 2,7 Juta Turis, Bidik Pendapatan US$4,2 Miliar
COLOMBO – Sri Lanka meluncurkan kampanye pariwisata internasional di enam pasar utama untuk mengejar 2,7 juta kunjungan wisatawan dan pendapatan US$4,2 miliar pada 2026, setelah konflik di Timur Tengah sebelumnya mengganggu arus perjalanan dan penerbangan internasional.
Kampanye tersebut menyasar wisatawan dari Australia, China, Jerman, Inggris, Rusia, dan India. Pemerintah berharap promosi digital dan pemasaran yang lebih agresif dapat meningkatkan pemesanan menjelang musim wisata musim dingin di belahan bumi utara. Reuters melaporkan kampanye ini menjadi bagian dari upaya Sri Lanka memulihkan momentum sektor pariwisata setelah kunjungan wisatawan menurun pada Maret dan April.
Sri Lanka menerima sekitar 1,3 juta wisatawan selama tujuh bulan pertama 2026 dan menghasilkan sekitar US$1,5 miliar dari sektor pariwisata hingga akhir Juli. Angka tersebut membuat pariwisata tetap menjadi salah satu sumber utama devisa negara.
Namun, perjalanan internasional sempat terpukul oleh eskalasi konflik di kawasan Teluk. Reuters mencatat jumlah kedatangan wisatawan turun sekitar 20 persen pada Maret dan April, sehingga pemerintah menyesuaikan target tahunan dari tiga juta menjadi 2,7 juta wisatawan.
Ketua Sri Lanka Tourism Promotion Bureau (SLTPB) Buddhika Hewawasam mengatakan pemerintah tetap optimistis target tersebut dapat dicapai dengan dukungan promosi dan peningkatan konektivitas penerbangan.
“We surpassed 1.4 million arrivals right now at the beginning of August, and we are aiming for 2.7 million tourists with the upcoming season and promotions in line,” kata Hewawasam, seperti dikutip EconomyNext.
Kampanye sementara tersebut memiliki anggaran sekitar 1,5 miliar rupee Sri Lanka dan akan berjalan hingga April 2027. Strategi pemasaran dibuat khusus untuk masing-masing pasar, termasuk promosi digital melalui berbagai platform serta kegiatan promosi langsung di sejumlah kota.
Menurut Daily Mirror, pemerintah juga menyiapkan kampanye branding global yang lebih besar dengan anggaran sekitar 5 miliar rupee, yang dijadwalkan mulai 2027. Program tersebut ditujukan untuk memperkuat posisi Sri Lanka sebagai destinasi wisata global sekaligus meningkatkan jumlah wisatawan dengan pengeluaran tinggi.
Strategi Sri Lanka tidak hanya mengejar jumlah wisatawan. Pemerintah juga ingin memperluas produk wisata seperti wellness, diving, golf, marine tourism, dan adventure tourism, termasuk memperkenalkan wilayah utara dan timur yang selama ini belum menjadi tujuan utama wisatawan internasional.
Sri Lanka mencatat rekor 2,36 juta kunjungan wisatawan pada 2025 dengan pendapatan sekitar US$3,2 miliar. Dengan target 2026 yang kembali dinaikkan menjadi 2,7 juta kunjungan, pemerintah berharap pariwisata dapat menjadi salah satu mesin penting pemulihan ekonomi negara tersebut.
Editor :Tim Sigapnews
Source : Reuters, Sri Lanka Tourism Development Authority, Daily Mirror, EconomyNext