FAO Dorong Smart Farming Berbasis AI Hadapi Krisis Pangan
ROMA – Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mendorong negara-negara di dunia mempercepat penerapan smart farming berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) guna meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim, pertumbuhan populasi, dan keterbatasan sumber daya alam.
Dalam berbagai forum internasional mengenai transformasi sistem pangan sepanjang 2026, FAO menegaskan bahwa teknologi digital, termasuk AI, sensor pintar, drone, citra satelit, Internet of Things (IoT), dan analisis data, akan menjadi fondasi utama pertanian masa depan. Teknologi tersebut dinilai mampu membantu petani mengambil keputusan yang lebih cepat dan akurat, mulai dari menentukan waktu tanam, kebutuhan irigasi, pemupukan, hingga deteksi dini serangan hama dan penyakit tanaman.
"Digital technologies have enormous potential to transform agrifood systems and improve food security," kata FAO dalam dokumen transformasi digital sektor pertanian.
Menurut FAO, penerapan pertanian presisi (precision agriculture) memungkinkan penggunaan air, pupuk, pestisida, dan energi secara lebih efisien sehingga mampu meningkatkan hasil panen sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan. Teknologi AI juga dapat memanfaatkan data cuaca, kondisi tanah, dan citra satelit untuk memberikan rekomendasi yang lebih akurat kepada petani.
Bank Dunia menilai digitalisasi sektor pertanian berpotensi meningkatkan pendapatan petani kecil melalui akses informasi pasar, layanan keuangan, serta sistem peringatan dini terhadap cuaca ekstrem. Sementara itu, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyebut AI akan memainkan peran penting dalam meningkatkan efisiensi rantai pasok pangan global yang semakin kompleks.
Meski demikian, FAO mengingatkan transformasi digital tidak akan berhasil tanpa investasi pada infrastruktur internet pedesaan, peningkatan literasi digital petani, serta kebijakan yang menjamin akses teknologi bagi negara berkembang. Kesenjangan digital masih menjadi tantangan utama karena jutaan petani skala kecil belum memiliki akses terhadap jaringan internet maupun perangkat digital yang memadai.
Selain itu, FAO menekankan pentingnya tata kelola AI yang bertanggung jawab, termasuk perlindungan data petani, transparansi algoritma, dan penggunaan teknologi yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.
Dengan populasi dunia yang diperkirakan mencapai hampir 10 miliar jiwa pada 2050, FAO menilai transformasi menuju smart farming berbasis AI menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan produksi pangan secara berkelanjutan tanpa memperbesar tekanan terhadap sumber daya alam. Organisasi tersebut mengajak pemerintah, sektor swasta, lembaga riset, dan petani memperkuat kolaborasi agar inovasi digital dapat dimanfaatkan secara merata demi mewujudkan sistem pangan global yang tangguh dan inklusif.
Editor :Tim Sigapnews
Source : FAO, World Bank, OECD, CGIAR