Krisis AS–Iran Memanas, Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Bahaya
DUBAI – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat pada Rabu (15/7) hingga Kamis (16/7) setelah militer AS melancarkan gelombang terbaru serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran, sementara Teheran mengancam akan memperluas gangguan terhadap ekspor energi kawasan.
Eskalasi tersebut kembali menempatkan Selat Hormuz jalur pelayaran sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dalam status siaga.
Menurut laporan Reuters, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer terbaru menargetkan sistem pertahanan pantai, lokasi rudal, serta fasilitas militer di sekitar Bandar Abbas. Washington menyebut operasi itu bertujuan mengurangi kemampuan Iran menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Pemerintah Iran mengecam serangan tersebut dan menyebut negaranya tengah menghadapi "perang eksistensial" dengan Amerika Serikat. Otoritas Teheran juga memperingatkan bahwa mereka dapat memperluas gangguan terhadap ekspor energi regional apabila tekanan militer terus berlanjut.
Associated Press melaporkan bahwa Amerika Serikat juga memperluas operasi militernya ke wilayah Iran bagian utara, sementara Iran kembali melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah lokasi yang menampung pasukan AS di kawasan Teluk. Perkembangan tersebut memperbesar kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah.
.png)
Dampak konflik langsung terasa di pasar energi. Reuters melaporkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz menurun tajam karena meningkatnya risiko keamanan. Harga minyak sempat melonjak mendekati level tertinggi dalam satu bulan sebelum bergerak fluktuatif akibat aksi ambil untung investor dan ketidakpastian mengenai arah konflik. Sejumlah analis memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan terhadap jalur tersebut dapat mengganggu pasokan energi global.
Sementara itu, The Guardian menyebut konflik yang kembali memanas terjadi hanya beberapa hari setelah upaya gencatan senjata gagal dipertahankan. Media tersebut melaporkan serangan terbaru dan ancaman penutupan Selat Hormuz telah meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya perang yang lebih luas di kawasan.
Pengamat hubungan internasional menilai krisis AS – Iran kini tidak hanya menjadi isu keamanan regional, tetapi juga ancaman terhadap stabilitas ekonomi dunia. Selama Selat Hormuz tetap berada dalam situasi berisiko tinggi, pasar energi, industri pelayaran, dan perdagangan internasional diperkirakan akan terus menghadapi tekanan, sementara berbagai negara mendorong upaya diplomasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Editor :Tim Sigapnews
Source : Reuters, Associated Press, The Guardian