El Nino Ancam Asia-Afrika, Risiko Banjir Ekstrem Meningkat
JENEWA – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa fenomena El Niño yang diperkirakan menguat pada paruh kedua 2026 berpotensi meningkatkan risiko banjir ekstrem di sejumlah wilayah Asia dan Afrika.
Peringatan tersebut mendorong badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta pemerintah mempercepat langkah mitigasi untuk menghadapi kemungkinan hujan lebat, banjir besar, dan krisis pangan dalam beberapa bulan mendatang.
Menurut pembaruan iklim World Meteorological Organization (WMO) yang dirilis awal Juli, peluang terbentuknya El Niño mencapai sekitar 80 persen pada periode Juni – Agustus 2026 dan diperkirakan bertahan hingga akhir tahun. WMO menyebut fenomena tersebut akan mengubah pola curah hujan global, memicu hujan di atas normal di sejumlah kawasan, sementara wilayah lain menghadapi kekeringan berkepanjangan.
Laporan Al Jazeera menyebut lembaga-lembaga kemanusiaan telah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir di Afrika Timur dan sebagian Asia Selatan. Negara-negara seperti Somalia, Ethiopia, Kenya, Pakistan, Bangladesh, hingga India dinilai menghadapi risiko lebih besar terhadap banjir, tanah longsor, serta gangguan terhadap produksi pangan apabila curah hujan meningkat secara ekstrem.
.png)
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah harus memanfaatkan waktu yang masih tersedia untuk memperkuat sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat.
"Early warnings and early action are essential to save lives and reduce economic losses," kata Saulo dalam pernyataan resmi WMO.
Selain ancaman banjir, para ahli mengingatkan bahwa El Niño dapat memperburuk cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia. Reuters melaporkan ilmuwan di China memperkirakan kombinasi perubahan iklim dan berkembangnya El Niño akan meningkatkan intensitas badai tropis serta hujan ekstrem yang berpotensi memicu banjir besar di sejumlah wilayah negara tersebut.
Sementara itu, The Guardian mengutip hasil penelitian terbaru yang menunjukkan peluang munculnya "super El Niño" pada akhir 2026 semakin besar. Peristiwa tersebut diperkirakan dapat memperparah gelombang panas, banjir, kekeringan, hingga gangguan terhadap produksi pangan global apabila mencapai intensitas tinggi.
Pengamat iklim menilai negara-negara berkembang akan menjadi kelompok yang paling rentan karena keterbatasan infrastruktur, sistem drainase, serta kapasitas tanggap darurat.
WMO bersama badan-badan PBB kini mendorong pemerintah memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan kesiapan layanan kemanusiaan, dan mempercepat investasi pada infrastruktur yang lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem agar dampak El Niño dapat diminimalkan.
Editor :Tim Sigapnews
Source : World Meteorological Organization (WMO), Al Jazeera, Reuters, The Guardian, World Economic Forum