UNESCO: 113 Negara Bayar Utang Lebih Besar dari Pendidikan
PARIS – Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) memperingatkan bahwa 113 negara kini mengalokasikan anggaran lebih besar untuk membayar utang dibandingkan membiayai sektor pendidikan. Kondisi tersebut dinilai mengancam target pendidikan global dan memperlebar kesenjangan akses belajar bagi jutaan anak di seluruh dunia.
Peringatan itu disampaikan UNESCO dalam agenda Transforming Education Summit +4 di Paris pada Juli 2026. Menurut lembaga tersebut, sebanyak 113 negara yang dihuni sekitar 6,1 miliar penduduk saat ini menghadapi tekanan fiskal serius sehingga belanja pendidikan terus tergerus oleh kewajiban pembayaran utang.
Direktur Jenderal UNESCO menegaskan bahwa dunia memerlukan pendekatan baru agar pendidikan tidak terus menjadi korban krisis keuangan global.
"Education cannot wait while debt burdens continue to grow. Innovative financing is essential to protect every child's right to learn," tegas UNESCO dalam panduan resminya mengenai pembiayaan pendidikan.
Menurut laporan Reuters, UNESCO mendorong penerapan skema debt-for-education swaps, yakni mekanisme yang memungkinkan sebagian utang negara dialihkan menjadi investasi langsung untuk pembangunan sekolah, pelatihan guru, penyediaan fasilitas belajar, hingga bantuan bagi peserta didik. Model tersebut telah diterapkan di beberapa negara, termasuk kerja sama Prancis–Pantai Gading dan Spanyol–Peru yang berhasil mendanai puluhan proyek pendidikan.
UNESCO juga mengungkapkan bahwa bantuan internasional untuk sektor pendidikan diperkirakan turun hingga 30 persen pada periode 2023–2027. Pada 2024 saja, bantuan pendidikan global telah menyusut sekitar 8 persen, sementara pendanaan untuk pendidikan dasar turun lebih tajam. Negara-negara berpendapatan rendah diperkirakan menghadapi kesenjangan pembiayaan pendidikan mencapai US$97 miliar setiap tahun.
Sementara itu, UNICEF dan Bank Dunia berulang kali menegaskan bahwa investasi pada pendidikan merupakan salah satu faktor paling menentukan dalam mengurangi kemiskinan, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, serta memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang. Kedua lembaga tersebut menilai pemangkasan anggaran pendidikan akan berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.
The Guardian melaporkan bahwa di sedikitnya 18 negara dengan tingkat utang tertinggi, belanja untuk pembayaran utang bahkan mencapai lima kali lipat dibandingkan anggaran pendidikan. Kondisi tersebut dinilai memperburuk kualitas layanan pendidikan, terutama di negara-negara berkembang yang masih bergantung pada bantuan internasional.
UNESCO menilai target Sustainable Development Goal (SDG) 4 untuk menyediakan pendidikan berkualitas bagi semua pada 2030 akan semakin sulit dicapai apabila tren ini terus berlanjut. Organisasi tersebut menyerukan kerja sama pemerintah, lembaga keuangan internasional, dan negara donor agar pembiayaan pendidikan kembali menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global.
Editor :Tim Sigapnews
Source : Reuters, UNESCO, United Nations Sustainable Development, The Guardian, Global Education Monitoring (