Begini Tanggapan Komunitas Seni-Sastra Soal Dewan Kebudayaan Trenggalek
Terry (kanan memakai kostum putih) setelah tampil dalam acara resepsi Kenegaraan 17 Agustus di Penapa Trenggalek
Trenggalek, Wacana pembentukan Dewan Kebudayaan Trenggalek mulai mendapat respons dari berbagai kalangan. Setelah sebelumnya disikapi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, kini giliran pegiat seni dan komunitas budaya turut menyampaikan pandangan mereka.
Salah satu tanggapan datang dari komunitas sastra di Trenggalek. Pegiat sastra sekaligus penulis, Maria Terry Ana, menilai upaya melibatkan masyarakat dalam memikirkan arah kebijakan seni dan budaya merupakan langkah positif.
“Kami dari komunitas sastra setuju jika ada wadah bagi budayawan untuk ikut berpikir mengenai kebijakan kebudayaan, agar pemerintah dan masyarakat bisa berperan bersama dalam pemajuan seni-budaya,” ujarnya.
Terry mengatakan, wacana pembentukan Dewan Kebudayaan awalnya ia ketahui dari media sosial dan grup percakapan. Hal tersebut kemudian menjadi bahan diskusi di kalangan komunitas sastra.
Menurutnya, keberadaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan serta Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2020 menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah untuk lebih serius dalam mengembangkan sektor kebudayaan.
Ia berharap pemerintah dapat merespons aspirasi tersebut dengan menggelar forum terbuka yang melibatkan berbagai unsur pegiat seni dan budaya. Forum tersebut dinilai penting untuk membentuk lembaga yang representatif dan dapat menjadi mitra pemerintah.
Meski demikian, Terry mengingatkan agar proses pembentukan tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Ia menekankan perlunya kesamaan persepsi antara pegiat seni, budayawan, dan pemerintah.
“Harus ada pemahaman bersama agar tujuan pembentukan lembaga ini benar-benar untuk kepentingan bersama,” tegasnya.
Lebih lanjut, Terry menilai aktivitas seni dan budaya di Trenggalek dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang positif. Ia menyebut keterlibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan seni semakin meningkat.
Komunitas sastra dan literasi, misalnya, secara rutin menggelar diskusi dua mingguan serta menerbitkan karya bersama. Selain itu, para penulis juga aktif berkarya di berbagai media.
“Selama ini bergerak secara alami, tetapi akan lebih baik jika ada kebijakan yang mendukung dari pemerintah melalui wadah yang menampung masukan para budayawan,” tambahnya.
Terry juga menilai keberadaan lembaga kebudayaan, termasuk jika berbentuk dewan, relevan untuk menjembatani aspirasi masyarakat dengan pemerintah, khususnya dalam bidang seni dan budaya.
Ia menambahkan, konsep Trenggalek sebagai daerah yang atraktif membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk komunitas seni dan budaya.
“Kalau berbentuk dewan, tentu diharapkan berisi orang-orang yang memiliki kapasitas pemikiran, kajian yang kuat, serta mampu memberikan masukan strategis bagi pemerintah,” pungkasnya.
Editor :Lendra Maradona
Source : Laporan langsung