Wellness Jadi Gaya Hidup Global, Pasar Dunia Capai US$2,7 Triliun
Perjalanan yang menawarkan ketenangan, aktivitas alam, dan pemulihan diri menjadi salah satu arah perkembangan wisata wellness pada 2026.
JAKARTA – Gaya hidup sehat atau wellness semakin memengaruhi cara masyarakat dunia mengatur aktivitas sehari-hari, mulai dari pola makan, olahraga, perawatan tubuh, hingga pilihan perjalanan. Tren ini turut mendorong nilai pasar wellness global mencapai sekitar US$2,7 triliun, menurut laporan terbaru McKinsey & Company yang diterbitkan pada 3 November 2026.
Dalam laporan Future of Wellness 2027, McKinsey menjelaskan bahwa perhatian konsumen terhadap kesehatan dan kesejahteraan pribadi semakin meluas. Wellness tidak lagi terbatas pada keanggotaan pusat kebugaran atau produk kesehatan, tetapi juga mencakup kualitas tidur, pemulihan tubuh, kesehatan mental, nutrisi, kecantikan, dan pengalaman perjalanan.
Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 10.000 konsumen di China, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Dua dari tiga konsumen Amerika Serikat yang disurvei menyatakan lebih memprioritaskan wellness dibandingkan tahun sebelumnya.
McKinsey juga menemukan bahwa lebih dari sepertiga konsumen menganggap wellness sebagai bagian penting dari identitas mereka. Generasi Z dan milenial masih menjadi kelompok dengan pengeluaran besar untuk produk dan layanan kesehatan, meskipun minat dari kelompok usia lebih tua juga meningkat.
Salah satu tren yang menonjol adalah meningkatnya minat terhadap aktivitas pemulihan tubuh, seperti sauna bersama, cold plunge, dan program relaksasi. Aktivitas tersebut mulai berkembang dari layanan khusus menjadi bagian dari rutinitas sosial dan rekreasi.
Global Wellness Institute juga mengidentifikasi sejumlah tren perjalanan wellness pada 2026, termasuk wisata beriklim sejuk, pengalaman berbasis panas, perjalanan untuk mendapatkan istirahat mendalam, dan penggunaan kecerdasan buatan dalam merancang perjalanan kesehatan.
Teknologi AI turut memasuki kebiasaan wellness. Konsumen memanfaatkannya untuk mencari rekomendasi produk kesehatan, panduan meditasi, hingga ide resep makanan. Namun, penggunaan teknologi tersebut belum sepenuhnya diikuti kepercayaan. McKinsey mencatat sekitar 40 persen konsumen Amerika Serikat mengkhawatirkan kemungkinan ketidakakuratan saran kesehatan dari AI.
Karena itu, informasi dari tenaga kesehatan dan sumber tepercaya tetap penting, terutama ketika seseorang mempertimbangkan perubahan pola makan, penggunaan produk kesehatan, atau program kebugaran.
Perkembangan industri wellness juga memunculkan pertanyaan mengenai aksesibilitas. Produk premium, fasilitas spa, dan perjalanan kesehatan dapat membutuhkan biaya besar, sehingga tidak semua masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk menikmatinya.
Padahal, prinsip dasar wellness dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana, seperti menjaga waktu tidur, melakukan aktivitas fisik secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi, mengelola stres, dan menjaga hubungan sosial.
Tren ini memperlihatkan perubahan cara masyarakat memandang kesehatan. Wellness semakin menjadi bagian dari keputusan sehari-hari, bukan hanya aktivitas sesekali ketika tubuh mulai mengalami gangguan.
Bagi industri pariwisata, makanan, kecantikan, dan kebugaran, perubahan tersebut membuka peluang bisnis baru. Namun, konsumen tetap perlu membedakan layanan yang didukung bukti ilmiah dari klaim pemasaran yang menjanjikan hasil kesehatan secara berlebihan.
Editor :Tim Sigapnews
Source : McKinsey & Company, Global Wellness Institute, National Geographic, Global Wellness Summit, Hotel On







