ArtScience Museum Singapura Hadirkan Pameran Desain dan Kehidupan Alam
Kelp Council by Julia Lohmann. Installation view at the Design Museum, London. Exhibition photography_ Luke Hayes.
SINGAPURA – ArtScience Museum di Singapura menghadirkan pameran More than Human: Making With the Living World mulai 28 November 2026. Untuk pertama kalinya digelar di Asia, pameran ini menampilkan lebih dari 140 karya seni, instalasi, dan proyek interaktif yang mengeksplorasi hubungan manusia dengan alam serta keberlangsungan berbagai spesies.
Pameran tersebut melibatkan hampir 55 seniman, desainer, arsitek, peneliti, dan komunitas dari berbagai negara. Melalui perpaduan seni, desain, sains, dan teknologi, pengunjung diajak melihat alam bukan sekadar sebagai lingkungan tempat manusia hidup, melainkan sebagai mitra dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.
More than Human pertama kali dikembangkan oleh Design Museum London bersama Future Observatory, program riset nasional Inggris yang berfokus pada transisi menuju masa depan ramah lingkungan. Untuk penyelenggaraan di Singapura, ArtScience Museum menambahkan 25 karya yang menghadirkan perspektif Asia, termasuk tradisi budaya dan pengetahuan lokal tentang hubungan manusia dengan alam.
Wakil Presiden bidang Atraksi Marina Bay Sands, Angelita Teo, mengatakan penambahan perspektif kawasan Asia Tenggara bertujuan menghubungkan gagasan pameran dengan cara masyarakat setempat memahami dan hidup berdampingan dengan alam.
“Kami memperkaya pameran ini dengan beragam perspektif dan pengetahuan dari Singapura serta Asia Tenggara. Melalui pendekatan ini, kami ingin menghubungkan gagasan yang diangkat dalam pameran dengan cara masyarakat di kawasan ini memahami, menghargai, dan hidup berdampingan dengan alam,” ujar Angelita Teo.
Pameran ini terbagi menjadi tiga bagian tematik dengan tata ruang yang dirancang oleh Lekker Architects, firma arsitektur asal Singapura. Konsep ruangnya terinspirasi dari labirin semak, gugusan pulau, hingga lanskap hutan.
Salah satu karya utama adalah Berl-Berl karya Jakob Kudsk Steensen. Instalasi audiovisual imersif ini membawa pengunjung menjelajahi lanskap lahan basah digital yang terinspirasi dari bentang alam yang pernah membentuk wilayah Berlin.
Karya lainnya, How to Carve a Sculpture dari Aki Inomata, menggunakan kayu bekas gigitan biwara (beaver) untuk mengajak pengunjung mempertanyakan batas kreativitas antara manusia dan hewan.
Sementara itu, Pollinator Pathmaker: Perceptual Field 7SzzLn6GnY97DSo7hCSLMf karya Alexandra Daisy Ginsberg ditampilkan melalui tapestri sepanjang delapan meter yang menggambarkan taman dengan rancangan yang mempertimbangkan kebutuhan berbagai spesies penyerbuk.
.jpg)
Edisi Singapura juga menghadirkan karya seniman dan kolektif dari Asia Tenggara, di antaranya Lêna Bùi, Ines Katamso, Khvay Samnang, Zarina Muhammad, Citra Sasmita, Studio SKLIM, dan Superlative Futures.
ArtScience Museum turut berkolaborasi dengan sejumlah institusi lokal, seperti National Parks Board (NParks), Experimental Marine Ecology Laboratory dari National University of Singapore, serta Asian Civilisations Museum. Kolaborasi tersebut menghadirkan karya seperti Bee Trail, Fish Houses, dan koleksi perangkap ikan tradisional Asia Tenggara.
Direktur Eksekutif DesignSingapore Council, Dawn Lim, menyebut desain memiliki peran dalam mengubah cara manusia memahami dan berinteraksi dengan lingkungan.
Melalui pameran ini, pengunjung diajak mempertimbangkan pendekatan desain yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan manusia, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan spesies lain dan ekosistem.
Pameran More than Human: Making With the Living World menjadi bagian dari upaya mempertemukan gagasan seni dan desain global dengan pengetahuan lokal. Pengalaman tersebut diharapkan membuka perspektif baru mengenai hubungan saling ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan.
Editor :Tim Sigapnews
Source : ArtScience Museum, Design Museum London, Future Observatory, Marina Bay Sands, DesignSingapore Counc






