UNICEF: 171 Juta Siswa Terdampak Bencana Iklim, Sekolah Terancam
Ruang belajar sementara membantu anak-anak melanjutkan pendidikan ketika sekolah mereka terdampak bencana.
NEW YORK – Lebih dari 171 juta siswa di dunia mengalami gangguan pendidikan akibat bencana terkait iklim sepanjang 2025, menurut laporan UNICEF yang dirilis pada September 2026. Jumlah tersebut setara dengan sekitar satu dari setiap 10 siswa usia sekolah, dari prasekolah hingga jenjang menengah atas.
Laporan berjudul Learning Interrupted: Global Snapshot of Climate-Related School Disruptions in 2025 menganalisis data dari 106 negara dan wilayah. UNICEF menemukan bahwa badai, banjir, gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan mengganggu kegiatan belajar melalui penutupan sekolah, kerusakan bangunan, pengurangan jam pelajaran, hingga peralihan ke pembelajaran jarak jauh.
Badai menjadi penyebab gangguan pendidikan yang paling luas, dengan sekitar 109 juta siswa terdampak. Banjir memengaruhi sedikitnya 70 juta siswa, sedangkan gelombang panas mengganggu kegiatan belajar sekitar 50 juta anak.
Angka-angka tersebut menggambarkan kelompok terdampak dari berbagai jenis bencana dan tidak dapat dijumlahkan langsung karena seorang siswa bisa mengalami lebih dari satu jenis gangguan.
UNICEF mencatat sekitar 75 persen siswa terdampak tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah. Sistem pendidikan di negara-negara tersebut sering kali memiliki keterbatasan dana dan infrastruktur untuk menjaga pembelajaran tetap berlangsung ketika bencana terjadi.
Di Pakistan, banjir monsun pada Agustus 2025 menunda kembalinya lebih dari 28 juta siswa ke sekolah. Sementara itu, badai Khamsin di Mesir menyebabkan penghentian kegiatan belajar secara nasional selama satu hari pada April 2025 dan berdampak pada lebih dari 28 juta siswa.
Di Madagaskar, rangkaian kekeringan, siklon tropis, dan banjir memengaruhi sekitar 280.000 siswa sepanjang tahun tersebut. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya berupa kerusakan bangunan sekolah, tetapi juga hilangnya waktu belajar.
UNICEF memperingatkan bahwa anak perempuan berisiko lebih tinggi mengalami putus sekolah ketika bencana menutup atau merusak sekolah. Kehilangan tempat tinggal dan pendapatan keluarga dapat meningkatkan beban pekerjaan rumah tangga serta tanggung jawab mengasuh anggota keluarga.
Kerusakan fasilitas sanitasi juga dapat menghambat anak perempuan kembali belajar setelah sekolah dibuka. Dalam kondisi tertentu, tekanan ekonomi dan sosial tersebut turut meningkatkan risiko perkawinan anak.
Menurut analisis UNICEF, gangguan pendidikan akibat bencana iklim pada 2025 berpotensi mengurangi pendapatan seumur hidup para siswa terdampak sedikitnya US$200 miliar. Angka ini merupakan perkiraan potensi kerugian ekonomi, bukan kerugian yang sudah tercatat atau dibayarkan.
Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell menyatakan bahwa bencana iklim tidak sekadar menghentikan pelajaran, tetapi juga dapat menghancurkan sekolah, memaksa keluarga mengungsi, dan menjauhkan anak-anak rentan dari pendidikan.
UNICEF mendesak pemerintah dan mitra pembangunan memperkuat bangunan sekolah agar tahan terhadap bencana, meningkatkan pendanaan untuk ketahanan pendidikan, serta menyiapkan cara agar pembelajaran tetap berlangsung selama keadaan darurat.
Organisasi tersebut juga mendorong penguatan sistem peringatan dini dan integrasi pendidikan iklim ke dalam kurikulum agar siswa memahami risiko serta mampu beradaptasi.
Laporan ini menegaskan bahwa kesiapan menghadapi bencana bukan hanya persoalan keselamatan bangunan, melainkan juga upaya melindungi hak anak untuk terus belajar ketika cuaca ekstrem mengganggu kehidupan mereka.
Editor :Tim Sigapnews
Source : UNICEF, UNICEF USA, PreventionWeb, Agence France-Presse (AFP), detikEdu.







