Anak Krakatau Erupsi, Delapan Orang Hilang di Selat Sunda
JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memasuki babak genting setelah delapan orang hilang kontak saat menuju kawasan gunung api tersebut, sementara aktivitas erupsi dalam beberapa hari terakhir telah mengganggu penerbangan dan berdampak pada ratusan ribu penumpang.
Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri dari lima wartawan dan tiga kru kapal. Mereka berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB untuk mendokumentasikan aktivitas erupsi Anak Krakatau. Kontak terakhir dilaporkan sekitar pukul 15.04 WIB.
Lima jurnalis tersebut masing-masing berasal dari Antara, Merdeka, iNews, Anadolu Agency dan seorang jurnalis freelance. Tiga orang lainnya merupakan kapten, anak buah kapal dan pemandu perjalanan. Hingga operasi pencarian memasuki hari kedua, keberadaan mereka belum diketahui.
Tim SAR gabungan memperluas pencarian ke sejumlah wilayah Selat Sunda, termasuk perairan Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, Pulau Rakata, Pulau Panjang hingga kawasan Krakatau. Sejumlah kapal dari Basarnas, TNI dan Polri dikerahkan, sementara pencarian dari udara turut didukung perangkat pemantauan.
Operasi tersebut berlangsung di tengah ancaman aktivitas vulkanik. Tim SAR bahkan melihat material abu vulkanik cukup tebal saat melakukan penyisiran di sekitar Anak Krakatau. Kondisi itu membuat petugas harus menyesuaikan operasi dengan aktivitas gunung dan keselamatan personel.
Anak Krakatau sendiri mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam sejak Jumat malam hingga Minggu dini hari. Setelah fase tersebut berakhir, aktivitas vulkanik masih berlanjut dalam bentuk letusan Strombolian yang dapat menghasilkan abu dan material pijar.
Dampak erupsi juga menjalar ke sektor penerbangan. Abu vulkanik menyebabkan 2.961 penerbangan domestik dan internasional terdampak serta sekitar 341.000 penumpang terkena dampaknya. Sejumlah bandara, termasuk Soekarno-Hatta, sempat ditutup sebagai langkah mitigasi keselamatan.
Penerbangan kemudian kembali beroperasi setelah kondisi abu membaik. Namun, otoritas penerbangan tetap melakukan pemeriksaan terhadap pesawat dan infrastruktur bandara untuk memastikan tidak ada kontaminasi abu vulkanik yang dapat membahayakan penerbangan.
Badan Geologi mempertahankan status Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas karena masih terdapat potensi lontaran material vulkanik dan bahaya lain akibat erupsi.
Gunung yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra itu merupakan bagian dari kawasan Pacific Ring of Fire. Anak Krakatau juga memiliki sejarah mematikan setelah erupsi pada 2018 memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 400 orang.
Kini, perhatian tidak hanya tertuju pada perkembangan erupsi, tetapi juga pada pencarian delapan orang yang hilang. Tim SAR masih menyisir Selat Sunda dengan mempertimbangkan arus, cuaca dan aktivitas vulkanik untuk menemukan mereka dalam kondisi selamat.
Editor :Tim Sigapnews
Source : Associated Press, Reuters, ANTARA, Indonesian Police, Tim SAR