Australia Pertimbangkan “Digital Detox” di Sekolah, Penggunaan Layar Mulai Dibatasi
CANBERRA — Australia mulai mengevaluasi kembali penggunaan perangkat digital di sekolah setelah lebih dari 15 tahun teknologi menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Perdebatan tersebut menguat setelah Menteri Pendidikan Australia Jason Clare menyatakan anak-anak mungkin membutuhkan “digital detox” di sekolah.
Clare mengatakan penggunaan komputer di sekolah telah berkembang pesat sejak perangkat digital pertama kali diperkenalkan sebagai alat pembelajaran. Kini, laptop dan perangkat lain menjadi bagian dari keseharian siswa di dalam maupun di luar kelas.
Gagasan tersebut mendapat perhatian dari orang tua dan guru yang menilai penggunaan perangkat digital perlu dikendalikan agar tidak mengganggu konsentrasi siswa. Sebuah petisi yang menyerukan peninjauan terhadap ketergantungan sekolah pada perangkat digital telah mengumpulkan lebih dari 25.000 tanda tangan.
Sejumlah negara bagian Australia juga mulai mengambil langkah pembatasan. Victoria akan menghapus program bring your own device (BYOD) untuk siswa sekolah dasar mulai 2027. Penggunaan perangkat digital bagi siswa kelas 3 hingga kelas 6 juga akan dibatasi hingga maksimal 90 menit per hari.
Mulai 2027, sekolah menengah di Victoria juga diwajibkan menyediakan waktu pembelajaran tanpa perangkat digital. Pemerintah negara bagian menegaskan teknologi tetap memiliki peran dalam pendidikan, tetapi penggunaannya harus dilakukan secara terarah dan memberikan manfaat nyata bagi proses belajar.
Perdebatan tersebut muncul di tengah kekhawatiran terhadap konsentrasi siswa, kemampuan membaca secara mendalam, interaksi sosial dan gangguan dari perangkat yang terhubung internet.
Data OECD menunjukkan sekitar satu dari tiga siswa berusia 15 tahun di negara-negara OECD mengaku terdistraksi oleh perangkat digital dalam sebagian besar atau setiap pelajaran matematika. Sekitar satu dari empat siswa juga mengatakan mereka terganggu oleh siswa lain yang menggunakan perangkat digital.
Namun, sejumlah akademisi mengingatkan bahwa bukti mengenai dampak penggunaan layar terhadap prestasi akademik belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa perangkat digital secara langsung menyebabkan penurunan hasil belajar.
Karena itu, perdebatan di Australia tidak sepenuhnya mengarah pada pelarangan teknologi. Sejumlah pendidik justru mendorong penggunaan perangkat digital secara selektif, yakni hanya ketika teknologi benar-benar membantu proses pembelajaran.
Perubahan sikap Australia mencerminkan perdebatan global mengenai masa depan teknologi dalam pendidikan. Negara-negara yang sebelumnya mendorong digitalisasi sekolah kini mulai mempertimbangkan kembali batas penggunaan layar di ruang kelas.
Pertanyaan yang kini muncul bukan lagi apakah sekolah harus menggunakan teknologi, tetapi kapan teknologi benar-benar membantu siswa belajar dan kapan justru menjadi gangguan.
Sumber: The Guardian, Pemerintah Victoria, OECD, University of Wollongong.
Editor :Tim Sigapnews
Source : The Guardian, Victorian Government, University of Wollongong, OECD