Seni Gua Berusia 67.800 Tahun di Indonesia Mengubah Paham Sejarah Manusia
MUNA, SULAWESI TENGGARA — Sebuah cap tangan samar di dinding Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, berusia setidaknya 67.800 tahun dan kini menjadi salah satu bukti seni cadas manusia paling tua yang pernah ditemukan. Temuan ini membuka kembali pembahasan tentang kapan manusia mulai menciptakan simbol, seni, dan perjalanan budaya di kawasan Asia Tenggara.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada Januari 2026 mengungkap bahwa cap tangan tersebut dibuat dengan menempatkan tangan pada permukaan batu, kemudian meniupkan pigmen di sekitarnya sehingga meninggalkan bentuk negatif tangan.
Usianya ditentukan melalui laser-ablation uranium-series dating, dengan menganalisis lapisan mineral kalsit yang terbentuk di atas lukisan. Penanggalan tersebut menghasilkan usia minimum 67.800 tahun untuk gambar yang berada di bawah lapisan mineral itu.
Yang membuat penemuan ini penting bukan hanya usianya. Cap tangan dari Muna memperlihatkan bahwa manusia telah melakukan aktivitas simbolik di wilayah yang kini menjadi Indonesia puluhan ribu tahun lalu.
Para peneliti menemukan sejumlah seni cadas di kawasan Sulawesi Tenggara. Survei mereka mencatat 44 situs, termasuk 14 lokasi yang sebelumnya belum diketahui. Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut menyimpan sejarah seni prasejarah yang jauh lebih luas daripada yang selama ini terdokumentasi.
Petunjuk Perjalanan Manusia ke Australia
Temuan Muna juga berkaitan dengan sejarah migrasi manusia.
Sulawesi berada di kawasan Wallacea, wilayah kepulauan yang menjadi bagian penting dalam perjalanan manusia dari Asia menuju Sahul—daratan purba yang dahulu menghubungkan Australia dan Papua.
Para peneliti mengatakan keberadaan seni cadas yang sangat tua di Sulawesi memperkuat kemungkinan bahwa kelompok manusia awal telah melakukan perjalanan melalui jalur utara menuju Sahul. Temuan tersebut memberikan konteks baru terhadap sejarah populasi yang kemudian berkontribusi pada leluhur masyarakat Indigenous Australia dan Papua.
Indonesia sebelumnya juga mengejutkan dunia dengan temuan seni cadas di kawasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, yang berusia sekitar 51.200 tahun. Dengan temuan baru di Muna, Sulawesi semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah awal seni manusia.
Sebuah Warisan yang Masih Terancam
Namun, semakin penting sebuah situs prasejarah, semakin besar pula kebutuhan untuk melindunginya.
Penelitian mengenai kawasan Liang Kabori di Muna sebelumnya menemukan bahwa dari 43 situs seni cadas yang diamati, 84 persen berada dalam kategori rusak dan 14 persen rusak parah. Ancaman berasal dari faktor alam maupun aktivitas manusia.
Artinya, sejarah manusia yang tersimpan di dinding gua Indonesia bukan sekadar peninggalan masa lalu. Sebagian di antaranya masih membutuhkan perlindungan agar dapat dibaca oleh generasi berikutnya.
Bagi dunia, cap tangan di Liang Metanduno menawarkan satu pesan sederhana: jauh sebelum munculnya kota, kerajaan, dan peradaban tertulis, manusia di kepulauan Indonesia telah meninggalkan jejak bahwa mereka mampu menciptakan simbol dan berkomunikasi melalui gambar.
Dan jejak itu telah bertahan selama lebih dari 67 milenium.
Editor :Tim Sigapnews
Source : Nature, Reuters, Associated Press, National Geographic, The Guardian, Kementerian Kebudayaan RI, BRI