Tiongkok Serap Ekspor Indonesia US$54,17 Miliar, Besi dan Baja Mendominasi
Produk besi dan baja menjadi komoditas terbesar dalam ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok, dengan nilai sekitar US$14,24 miliar.
JAKARTA – Tiongkok menjadi negara tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai mencapai US$54,17 miliar sepanjang Januari–September 2026. Angka tersebut meningkat 16,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus menempatkan Tiongkok sebagai pasar utama produk Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok menyumbang sekitar 25,52 persen dari total ekspor nonmigas nasional selama sembilan bulan pertama 2026.
Berdasarkan data BPS yang dipaparkan pada Senin (2/11/2026), nilai ekspor ke Tiongkok melampaui pengiriman ke Amerika Serikat sebesar US$25,39 miliar dan India sebesar US$15 miliar.
Besi dan baja menjadi kelompok komoditas dengan kontribusi terbesar dalam ekspor Indonesia ke Tiongkok. Nilainya mencapai sekitar US$14,24 miliar, atau 26,29 persen dari total ekspor nonmigas ke negara tersebut.
Selain besi dan baja, produk nikel dan barang turunannya mencatat nilai ekspor sekitar US$8,25 miliar. Sementara itu, bahan bakar mineral mencapai US$7,63 miliar.
Data tersebut memperlihatkan kuatnya peran komoditas industri, pertambangan, dan energi dalam hubungan perdagangan Indonesia dengan Tiongkok.
Secara keseluruhan, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia mencapai US$221,23 miliar selama Januari–September 2026, meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Ekspor nonmigas menyumbang US$212,27 miliar atau tumbuh 6,30 persen. Sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan nilai ekspor US$182,83 miliar, meningkat 8,93 persen secara tahunan.
Tiongkok, Amerika Serikat, dan India secara bersama-sama menyerap 44,55 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.
Besarnya pasar Tiongkok membuka peluang bagi produk Indonesia, tetapi juga memperlihatkan pentingnya diversifikasi tujuan ekspor agar perdagangan nasional tidak terlalu bergantung pada sejumlah pasar utama.
Editor :Tim Sigapnews
Source : BPS, ANTARA News, Bisnis Indonesia, Bloomberg Technoz, CNN Indonesia, Media Indonesia, Marketeers.









