Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Wakil Rektor Paramadina Handi: Dampaknya Belum Merata
Wakil Rektor Universitas Paramadina, Handi Risza
Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Namun di balik capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir itu, Wakil Rektor Universitas Paramadina, Handi Risza, menilai manfaat pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan masyarakat luas.
Data yang dirilis Badan Pusat Statistik pada Rabu (7/5/2026) menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun. Sementara PDB atas dasar harga konstan tercatat Rp3.447,7 triliun.
Handi menjelaskan, pertumbuhan ekonomi pada awal 2026 didorong kuat oleh momentum Ramadan dan Idul Fitri yang memicu lonjakan konsumsi rumah tangga. Belanja masyarakat untuk kebutuhan makanan, pakaian, transportasi, hingga akomodasi meningkat tajam selama periode tersebut.
“Pemberian THR yang kemudian dibelanjakan untuk makanan, minuman, pakaian, dan akomodasi menyebabkan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 54,36 persen,” ujar Handi di Jakarta.
Ia menambahkan, tingginya mobilitas masyarakat selama libur Lebaran ikut mendongkrak sektor transportasi dan pergudangan hingga tumbuh 8,04 persen. Sementara sektor akomodasi dan makan minum melonjak mencapai 13,14 persen.
Selain faktor musiman, Handi menilai berbagai program pemerintah juga ikut menggerakkan roda ekonomi nasional. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pencairan THR ASN, pengangkatan ASN baru, hingga peningkatan belanja pemerintah dinilai memberi efek signifikan terhadap konsumsi domestik.
“Program pemerintah seperti MBG berhasil mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor terkait,” katanya.
Meski demikian, Handi mengingatkan bahwa angka pertumbuhan tinggi tersebut juga dipengaruhi efek basis rendah atau low base effect dari periode sebelumnya. Karena itu, ia meminta pemerintah tidak terlena dengan capaian statistik semata.
“Meskipun pertumbuhan ekonomi ini termasuk tertinggi di G20, dampaknya belum sepenuhnya terasa di lapangan,” tegasnya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi masih terkonsentrasi pada sektor tertentu seperti manufaktur, transportasi, dan pergudangan, sehingga manfaatnya belum menyebar merata ke seluruh lapisan masyarakat.
Di sisi lain, ekonomi Indonesia secara triwulanan masih mengalami kontraksi 0,77 persen dibanding Triwulan IV 2025. Handi menyebut kondisi itu sebagai pola musiman pasca lonjakan aktivitas ekonomi akhir tahun.
Ia juga mengingatkan ancaman global masih membayangi perekonomian nasional hingga akhir 2026, mulai dari ketegangan geopolitik internasional, potensi krisis energi, pelemahan mata uang, hingga tekanan inflasi dunia.
“Kondisi global masih penuh ketidakpastian. Karena itu pemerintah dan pelaku ekonomi harus lebih hati-hati dan terukur dalam mengambil langkah,” pungkasnya.
Editor :Tim Sigapnews