Mengenang Agus Widjojo, Prof Didik: Indonesia Kehilangan Arsitek Reformasi Militer
Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo pada Minggu malam (8/2/2026).
JAKARTA - Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo pada Minggu malam (8/2/2026). Ia menegaskan, Indonesia kehilangan salah satu arsitek intelektual yang berperan besar dalam mengakhiri Dwifungsi ABRI dan mendorong profesionalisme TNI di era Reformasi.
Ditemui usai memberikan keterangan kepada media, Prof. Didik mengenang almarhum sebagai “perwira intelektual” yang mampu menjembatani dialog militer dan sipil dalam masa transisi politik paling krusial di Indonesia.
“Saya mengenal Jenderal Agus Widjojo sejak awal 1990-an ketika diajak Dipo Alam untuk merancang dan melaksanakan Seminar Angkatan Darat kedua di Bandung,” ujar Prof. Didik, Senin (9/2/2026).
“Saya baru menyelesaikan kuliah doktor dan pemikiran tentang ekonomi politik masih hangat di kepala," tambahnya.
Menurutnya, pertemuan intensif selama beberapa hari itu membuka pandangannya terhadap kapasitas intelektual Agus Widjojo. “Pertemuan yang berhari-hari dengannya memberi kesan bahwa Agus Widjojo merupakan jenderal intelektual yang fasih pemikiran politik dan militer dalam konteks perubahan zaman,” katanya.
Prof. Didik menilai Agus sebagai figur langka di tubuh militer. Di satu sisi ia elit perwira tinggi, di sisi lain konsisten mendorong demokratisasi dan supremasi sipil.
“Kalangan intelektual sipil seperti saya dan banyak kawan-kawan yang lain nyaman bertukar pikiran dengan Agus Widjojo. Selain santun dan ramah, pemikirannya sangat bernas dan menjunjung profesionalisme TNI sekaligus supremasi sipil,” tegasnya.
Ia menambahkan, gagasan Agus tentang militer profesional lahir dari keyakinan bahwa demokrasi modern membutuhkan keseimbangan trias politika.
“Pemikirannya tentang profesionalisme militer dan supremasi sipil tidak lain untuk demokrasi modern di mana masyarakat madani seimbang dalam eksekutif, legislatif, dan yudikatif,” ujarnya.
Prof. Didik juga menyebut Agus Widjojo sebagai salah satu arsitek intelektual yang menutup era Dwifungsi ABRI. Baginya, militer yang kuat justru tumbuh dari sistem demokrasi, bukan dari keterlibatan dalam politik praktis.
“Institusi militer mesti tunduk pada konstitusi dan hukum, bukan penjaga kekuasaan, melainkan alat negara untuk pertahanan,” katanya.
Sebagai Gubernur Lemhannas RI, Agus terus menyalurkan pemikiran strategisnya kepada elite pemerintahan. “Lemhannas adalah dapur pemikiran negara yang membentuk cara pandang elite memahami geoekonomi dan geopolitik,” jelas Prof. Didik.
Menutup pernyataannya, ia menyebut kepergian Agus Widjojo sebagai kehilangan besar bagi bangsa. “Pendek kata, intelektualisme Agus Widjojo lengkap dan komprehensif, yang belum tentu ada penggantinya,” ucapnya tegas.
Editor :Tim Sigapnews