Ekonom Tekan Prabowo Maksimalkan Jepang, Prof Didik: Jangan Sekadar Diplomasi
Rektor Universitas Paramadina sekaligus ekonom INDEF, Didik J. Rachbini
JAKARTA - Rektor Universitas Paramadina sekaligus ekonom INDEF, Didik J. Rachbini, menegaskan pentingnya memperkuat hubungan dagang Indonesia dengan Jepang di tengah persaingan global yang kian ketat. Pernyataan itu disampaikan menanggapi kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang, Rabu (1/4/2026).
Dalam analisisnya, Didik menilai hubungan ekonomi Indonesia–Jepang memiliki karakter saling melengkapi atau komplementer, berbeda dengan hubungan dagang dengan China yang dinilai lebih kompetitif dan saling menggantikan.
“Perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer, saling melengkapi sehingga bersifat win-win di mana kedua negara mendapat manfaat yang optimal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pola perdagangan tersebut memungkinkan Indonesia mengekspor sumber daya alam seperti energi dan hasil pertanian, sementara Jepang memasok teknologi, mesin, dan investasi industri. Model ini dinilai mampu memperkuat cadangan devisa sekaligus mendorong pertumbuhan industri dalam negeri.
Sebaliknya, Didik mengingatkan adanya tekanan serius dari hubungan dagang dengan China yang cenderung kompetitif.
“Sifat hubungan dagang dengan China saling bersubstitusi kompetisi pada produk-produk yang sejenis,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini berkontribusi pada melemahnya sektor manufaktur nasional hingga memicu fenomena deindustrialisasi dini.
“Deindustrialisasi dini juga terjadi karena industri dalam negeri diterpa persaingan dagang yang bersifat substitusi seperti ini,” tegasnya.
Didik menilai momentum kunjungan Presiden ke Jepang harus dimanfaatkan secara maksimal, bukan sekadar simbol diplomatik.
“Tim ekonomi harus memaksimalkan kunjungan ini bukan hanya diplomasi sambilan,” ujarnya.
Ia mendorong pemerintah segera menyusun langkah konkret pasca kunjungan, termasuk strategi promosi kerja sama yang terarah untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Secara ekonomi, Jepang tetap menjadi mitra strategis meski pertumbuhannya relatif moderat. Negara tersebut memiliki kebutuhan besar terhadap energi, batubara, LNG, serta produk perikanan dan pertanian dari Indonesia.
Sebaliknya, Indonesia berpeluang memperoleh transfer teknologi, peningkatan investasi, hingga penciptaan lapangan kerja, terutama di sektor manufaktur seperti otomotif dan elektronik.
Dengan peluang tersebut, Didik menegaskan bahwa penguatan kerja sama dengan Jepang dapat menjadi kunci untuk mempercepat industrialisasi nasional sekaligus memperbaiki struktur perdagangan Indonesia di tengah tekanan global.
Editor :Tim Sigapnews