Negara-Negara Perkuat Sistem Pemantauan Laut Dunia
“Sistem pemantauan laut menggunakan kapal penelitian, buoy, sensor, satelit dan berbagai platform lainnya untuk mengumpulkan data mengenai kondisi samudra dunia.
JAKARTA – Sejumlah negara memperkuat kerja sama untuk memantau perubahan laut dunia melalui peluncuran OceanEye International Alliance for the Global Ocean Observing System (GOOS) di sela Sidang Umum PBB ke-81 di New York, Amerika Serikat, September 2026.
Aliansi tersebut diluncurkan Uni Eropa dan Kanada bersama Intergovernmental Oceanographic Commission UNESCO (IOC-UNESCO) serta World Meteorological Organization (WMO). Hingga peluncurannya, 31 anggota telah bergabung, terdiri dari Uni Eropa, Kanada, dan 29 negara lainnya.
Komitmen pendanaan dan dukungan dari para mitra telah mencapai lebih dari US$339 juta atau sekitar €211 juta. Uni Eropa menjanjikan tambahan €92 juta, sedangkan Kanada berkomitmen memberikan CAD$82 juta selama lima tahun untuk memperluas kemampuan pemantauan lautnya.
Dukungan tersebut akan digunakan untuk mempertahankan berbagai platform pemantauan yang sudah ada, memperluas kapasitas pengamatan, menutup kesenjangan data di wilayah tertentu, serta memperkuat koordinasi dan pengelolaan data laut.
Sistem GOOS sendiri telah menjadi salah satu infrastruktur penting dalam pemantauan kondisi laut global. Sistem ini mengoordinasikan sekitar 120.000 observasi setiap hari melalui sekitar 8.000 platform yang dioperasikan oleh 64 negara dan 17 jaringan pengamatan global.
Data tersebut mencakup berbagai kondisi laut dan digunakan untuk kebutuhan yang jauh lebih luas daripada penelitian kelautan. Informasi mengenai suhu laut, arus, gelombang, permukaan laut dan kondisi biologis membantu meningkatkan prakiraan cuaca, peringatan dini, prediksi iklim, keselamatan pelayaran, perlindungan wilayah pesisir, hingga pengelolaan perikanan dan biodiversitas laut.
Namun, sistem pemantauan global masih menghadapi persoalan pendanaan. Komisi Eropa menyebut sekitar 90 persen observasi global saat ini dibiayai hanya oleh sembilan negara, sehingga sistem tersebut rentan jika terjadi gangguan pendanaan atau perubahan dukungan dari kontributor utama.
Kesenjangan pengamatan juga masih terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Samudra Selatan, kawasan kutub dan laut dalam. Padahal, kawasan-kawasan tersebut penting untuk memahami perubahan iklim dan dinamika ekosistem laut secara menyeluruh.
Melalui OceanEye, negara-negara anggota berupaya membangun sistem pengamatan yang lebih stabil, terbuka dan dapat digunakan bersama. Mobilisasi kerja sama ini akan berlanjut sepanjang 2026–2028 dan seterusnya, termasuk melalui pertemuan internasional seperti COP31.
Penguatan pemantauan laut menjadi semakin penting ketika perubahan iklim, pencemaran dan tekanan terhadap ekosistem laut terus meningkat. Dengan lebih banyak data dan pengamatan yang konsisten, ilmuwan dan pemerintah memiliki dasar yang lebih kuat untuk memahami perubahan laut sekaligus merancang kebijakan perlindungannya.
Editor :Tim Sigapnews
Source : UNESCO-IOC, World Meteorological Organization (WMO), European Commission, Government of Canada, VLIZ