Eksperimen Hutan 30 Tahun Australia Bawa Temuan Mengejutkan
Leadbeater’s possum di habitat mountain ash sebagai pendukung angle biodiversitas.
JAKARTA – Eksperimen kehutanan yang berlangsung selama lebih dari 30 tahun di Victoria, Australia, menghasilkan temuan yang mengejutkan. Hutan mountain ash yang mengalami penjarangan berat justru memiliki pohon berukuran lebih besar dan mampu menyimpan karbon kayu sebanyak atau bahkan lebih tinggi dibandingkan hutan yang tidak ditebang.
Penelitian tersebut berasal dari Silvicultural Systems Project, eksperimen yang dimulai pada akhir 1980-an di kawasan hutan mountain ash di Victoria, termasuk Tanjil Bren di Central Highlands.
Para peneliti membandingkan sejumlah metode pengelolaan hutan, mulai dari clearfelling atau penebangan habis, pembukaan dalam berbagai ukuran, hingga heavy thinning, yaitu mengurangi sekitar 50–70 persen pohon dalam suatu area. Sebagian hutan dibiarkan tidak ditebang sebagai pembanding.
Eksperimen tersebut pada awalnya dirancang untuk menjawab perdebatan panjang di Australia mengenai bagaimana hutan dapat dikelola tanpa mengorbankan fungsi ekologisnya.
Namun, setelah pemantauan utama berakhir dan proyek perlahan terlupakan, pepohonan di lokasi eksperimen terus tumbuh.
Ketika peneliti kembali memeriksa kawasan tersebut sekitar tiga dekade kemudian, mereka menemukan perbedaan mencolok. Pohon-pohon mountain ash yang tersisa di area yang mengalami penjarangan berat tumbuh sangat besar.
Pohon terbesar di area tersebut memiliki diameter lebih dari 1 meter, sementara beberapa bahkan mencapai lebih dari 1,5 meter. Rata-rata diameter pohon terbesar di area yang ditipiskan juga sekitar 20 persen lebih besar dibandingkan pohon di area kontrol yang tidak ditebang.
Temuan lain bahkan lebih menarik.
Setelah 30 tahun, hutan yang mengalami penjarangan berat telah mengganti karbon yang hilang akibat penebangan dan menyimpan karbon kayu sebanyak atau lebih tinggi dibandingkan area hutan yang tidak ditebang.
Para peneliti menduga pohon yang tersisa memperoleh lebih banyak ruang, cahaya, air, dan sumber daya sehingga pertumbuhannya meningkat secara signifikan.
Pertumbuhan pohon yang lebih besar juga memiliki konsekuensi ekologis. Pohon berukuran besar lebih mungkin membentuk lubang pada batang yang dapat menjadi habitat bagi satwa liar, sementara struktur hutan yang lebih terbuka memungkinkan tumbuhnya vegetasi bawah yang menjadi sumber makanan bagi sejumlah spesies.
Dalam survei menggunakan kamera perangkap, peneliti bahkan menemukan Leadbeater’s possum, satwa langka Australia, di seluruh petak yang mendapat perlakuan silvikultur, sementara satwa tersebut tidak ditemukan di area kontrol yang tidak ditebang dalam survei tersebut.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hasil tersebut tidak berarti penebangan hutan selalu lebih baik bagi lingkungan. Mountain ash merupakan ekosistem yang sangat spesifik, dan dampak pengelolaan hutan dapat berbeda tergantung jenis hutan, intensitas penebangan, kondisi iklim serta satwa yang hidup di dalamnya.
Studi tersebut justru menunjukkan pentingnya melihat pengelolaan hutan dalam jangka panjang. Eksperimen yang hampir terlupakan selama puluhan tahun akhirnya memberikan data yang tidak mungkin diperoleh melalui penelitian singkat.
Bagi ilmuwan, temuan tersebut dapat membantu membuka kembali perdebatan tentang bagaimana hutan dapat dikelola untuk menyeimbangkan produksi kayu, penyimpanan karbon, pertumbuhan pohon dan habitat satwa liar.
Editor :Tim Sigapnews
Source : University of Melbourne, Forest Science, The Conversation, Phys.org, ScienceDaily.