Krisis Air Mulai Menekan Kaltim, Ribuan Warga Terdampak
warga Samarinda mengambil air di Parit
SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR – Krisis air bersih mulai menekan sejumlah wilayah Kalimantan Timur setelah kemarau berkepanjangan memicu kekeringan dan intrusi air laut ke Sungai Mahakam. Pemerintah kini menyalurkan ratusan ribu liter air untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat.
Di Samarinda, pemerintah pada 22 September menyalurkan 98.000 liter air bersih kepada sekitar 2.440 warga yang terdampak gangguan pasokan akibat intrusi air laut. Kadar klorida di aliran Sungai Mahakam bahkan melampaui ambang aman 250 parts per million (ppm), sehingga sejumlah instalasi pengolahan air harus menyesuaikan operasionalnya.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, mengatakan bantuan tersebut didistribusikan langsung kepada masyarakat yang terdampak.
“Penyaluran pasokan air bersih darurat sebanyak 98 ribu liter ini disalurkan langsung untuk menjangkau 2.440 jiwa penerima manfaat terdampak,” kata Andri, Selasa (22/9/2026).
Masalah tidak hanya terjadi di Samarinda.
Di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN), BPBD telah menyalurkan 822,2 ton air bersih melalui 170 kali distribusi selama Agustus hingga September. Bantuan menjangkau sejumlah wilayah di Kecamatan Sepaku, Babulu dan Penajam.
Sungai Mahakam Terancam Asin
Intrusi air laut menjadi persoalan serius bagi Samarinda. Ketika air laut masuk lebih jauh ke aliran sungai, kadar garam meningkat dan membuat air baku lebih sulit diolah menjadi air bersih.
Pada salah satu periode pengukuran, kadar klorida di Sungai Mahakam bahkan mencapai 1.085 ppm, sehingga Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sungai Kapih sempat menghentikan produksi.
Pemerintah sebelumnya juga telah menyalurkan 160.000 liter air bersih ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan di Kaltim, termasuk PPU, Paser dan Samarinda.
Di PPU, pemerintah bahkan menyelesaikan interkoneksi jaringan air dari Waru menuju sumber air baku Lawe-Lawe untuk membantu mengatasi keterbatasan pasokan air selama kemarau.
Tekanan Baru bagi Kawasan IKN
Krisis air menjadi perhatian khusus karena sebagian wilayah terdampak berada di sekitar kawasan IKN.
Otorita IKN telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi potensi kekeringan berkepanjangan, termasuk pemanfaatan Waduk Sepaku Semoi dan rencana pengeboran sumur untuk mencari cadangan air tanah bagi masyarakat sekitar. Penelitian geolistrik bersama Universitas Gadjah Mada dilakukan sebagai bagian dari persiapan pengeboran tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan pembangunan di Kalimantan Timur bukan hanya menyediakan infrastruktur baru, tetapi juga memastikan ketahanan air bagi masyarakat dan kawasan perkotaan yang terus berkembang.
Bagi Kaltim, musim kemarau 2026 kini menjadi ujian terhadap kemampuan pemerintah menjaga akses air bersih ketika sumber air baku menghadapi tekanan dari kekeringan sekaligus intrusi air laut.
Editor :Tim Sigapnews
Source : ANTARA News Kalimantan Timur, Otorita IKN, detikKalimantan, BPBD Penajam Paser Utara, Balai Wilayah