Kabut Asap Karhutla Ganggu Aktivitas Pekanbaru, Siswa Belajar dari Rumah
Petugas membagikan masker kepada pengendara
PEKANBARU — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, pada awal Oktober 2026. Memburuknya kualitas udara mengganggu aktivitas masyarakat, membatasi jarak pandang pengguna jalan, dan mendorong pemerintah kota memperpanjang pembelajaran jarak jauh bagi siswa.
Berdasarkan laporan Riau Pos pada Rabu (7/10/2026), jarak pandang di Pekanbaru turun hingga sekitar 800 meter, dari sebelumnya sekitar 1,5 kilometer. Kabut putih tebal terlihat menutupi sejumlah kawasan perkotaan, termasuk ruas Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Soekarno-Hatta.
Kondisi udara semakin mengkhawatirkan pada Kamis (8/10). Channel NewsAsia (CNA) melaporkan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 202,1 mikrogram per meter kubik pada pukul 08.00 WIB. Sehari sebelumnya, angka tersebut sempat menyentuh 251,4 mikrogram per meter kubik.
Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko memperburuk gangguan pernapasan, khususnya pada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru.
Pemerintah Kota Pekanbaru memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) sampai Sabtu (10/10/2026).
Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah pemerintah mengevaluasi hasil pemantauan kualitas udara bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan.
“PJJ diperpanjang sampai Sabtu (10/10/2026) karena kondisi kabut asap yang masih memburuk,” kata Markarius, sebagaimana dikutip CNA Indonesia.
Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi paparan polusi terhadap peserta didik. Sekolah yang mengalami kendala listrik atau jaringan internet dapat menyesuaikan pembelajaran melalui penugasan berbasis rumah.
Dampak kabut asap juga dirasakan sektor kesehatan. Pemerintah Kota Pekanbaru melaporkan lebih dari 10.000 warga mengalami gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan paparan asap, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, iritasi, dan pneumonia. Pada 7 Oktober, sebanyak 374 pasien dilaporkan mengalami keluhan terkait asap dalam satu hari.
Sementara itu, kepolisian membagikan 1.000 masker kepada pengguna jalan pada Kamis (8/10) untuk membantu mengurangi paparan asap selama beraktivitas di luar ruangan.
Kabut asap tersebut diduga berkaitan dengan kebakaran di sejumlah wilayah Sumatra, termasuk Sumatra Selatan. Arah angin dan kondisi cuaca turut memengaruhi penyebaran asap menuju Riau.
Warga diimbau membatasi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai ketika harus keluar rumah, serta mengikuti informasi kualitas udara dari instansi resmi. Pemerintah daerah juga perlu terus memantau perkembangan karhutla dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa karhutla bukan hanya persoalan kebakaran lahan, tetapi juga masalah kesehatan publik dan keberlangsungan pendidikan. Pemulihan kualitas udara sangat bergantung pada pengendalian sumber kebakaran dan perubahan kondisi cuaca.
Editor :Tim Sigapnews
Source : Pemerintah Kota Pekanbaru, Media Center Provinsi Riau, BMKG, ANTARA, Riau Pos, CNA Indonesia, detikc