Anggota DPR RI Karmila Sari Perjuangkan Tambahan Rp9 Miliar Selamatkan Cagar Budaya Siak
Kunker Anggota Komisi X DPR RI dari Dapil Riau, Dr. Hj. Karmila Sari, S.Kom., M.M. di Kabupaten Siak mendorong pemerintah pusat mengalokasikan tambahan anggaran sebesar Rp9 miliar untuk mempercepat pemugaran cagar budaya di Siak.
SIAK – Anggota Komisi X DPR RI dari Daerah Pemilihan Riau, Dr. Hj. Karmila Sari, S.Kom., M.M., mendorong pemerintah pusat mengalokasikan tambahan anggaran sebesar Rp9 miliar untuk mempercepat pemugaran sejumlah cagar budaya di Kabupaten Siak. Usulan itu disampaikan saat kunjungan kerja Komisi X DPR RI di Siak, Rabu (22/7/2026), menyusul masih banyaknya bangunan bersejarah yang membutuhkan penanganan serius.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan Komisi X DPR RI yang dipimpin Ketua Komisi X DPR RI, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, meninjau langsung kondisi sejumlah situs bersejarah, termasuk Tangsi Belanda di Kecamatan Mempura yang sebagian bangunannya roboh pada 31 Januari 2026.
Rombongan diterima Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli bersama Wakil Bupati Syamsurizal, serta dihadiri perwakilan Kementerian Kebudayaan, BRIN, BPS RI, LLDIKTI Wilayah XVII, dan sejumlah mitra kerja Komisi X.
Pemerintah Kabupaten Siak dalam kesempatan itu menjelaskan telah memperoleh Anggaran Belanja Tambahan (ABT) 2026 sebesar Rp5,5 miliar dari Kementerian Kebudayaan. Dana tersebut terdiri atas Rp3 miliar untuk revitalisasi Istana Siak dan Rp2,5 miliar bagi Balairung Sri. Namun, anggaran itu baru mencukupi penanganan darurat, penyelamatan konstruksi, penyusunan Detail Engineering Design (DED), jasa pengawasan, hingga manajemen proyek sehingga revitalisasi belum dapat dilakukan secara menyeluruh.
Melihat kondisi tersebut, Karmila menilai tambahan anggaran Rp9 miliar layak diprioritaskan agar pemugaran Istana Siak, Balairung Sri, dan Tangsi Belanda dapat dilakukan secara komprehensif.
"Kunjungan kerja ini merupakan bentuk perhatian kami terhadap pelestarian kebudayaan. Situs-situs bersejarah di Siak memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia dan harus terus dijaga keberadaannya," kata Karmila.
Menurutnya, Kesultanan Siak memiliki kontribusi besar dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia sehingga warisan budaya yang masih tersisa tidak boleh hilang akibat minimnya perawatan.
"Kita harus mengingat sejarah bahwa Kesultanan Siak pernah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi Republik Indonesia. Karena itu, situs-situs sejarah dan cagar budaya harus terus dipelihara agar tidak hilang akibat kurangnya perawatan," ujarnya.
Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, sejumlah aset budaya, termasuk arsip sejarah, Istana Siak, Balairung Sri, hingga Tangsi Belanda, mengalami kerusakan yang membutuhkan penanganan segera.
"Jangan sampai sejarah bangsa ini hilang karena kita tidak mampu merawat warisan yang ada. Pelestarian cagar budaya merupakan tanggung jawab bersama agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang," tegasnya.
Sebagai wakil rakyat dari Riau, Karmila memastikan hasil kunjungan tersebut akan dibawa ke pembahasan bersama Kementerian Kebudayaan untuk memperjuangkan tambahan anggaran yang diusulkan Pemerintah Kabupaten Siak.
"Laporan hasil kunjungan ini akan kami sampaikan kepada kementerian terkait agar menjadi perhatian dan dapat diprioritaskan dalam pembahasan selanjutnya," pungkasnya.
Selain meninjau kawasan cagar budaya, Karmila juga menyerahkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah Aspirasi kepada mahasiswa Universitas Riau Indonesia (URI) di Kabupaten Siak sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan akses pendidikan tinggi di Provinsi Riau.
Editor :Tim Sigapnews