Hari Kesehatan Mental Sedunia Soroti Pengalaman Nyata Pasien
Kampanye WHO tahun ini mengangkat tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change”, yang menekankan peran pengalaman pasien dalam mendorong perubahan nyata.
JENEWA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti pentingnya melibatkan orang yang memiliki pengalaman langsung dengan masalah kesehatan mental dalam penyusunan kebijakan dan layanan kesehatan.
Pesan tersebut menjadi fokus Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati pada 10 Oktober 2026 dengan tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” atau pengalaman nyata didengar untuk mendorong perubahan.
Melalui kampanye tahun ini, WHO menegaskan bahwa mendengarkan cerita pasien saja tidak cukup. Orang yang pernah atau sedang mengalami masalah kesehatan mental perlu memperoleh kesempatan untuk ikut menentukan kebijakan, merancang layanan, mengembangkan dukungan sebaya, serta mengevaluasi kualitas perawatan yang mereka terima.
WHO menilai pengalaman langsung pasien merupakan sumber pengetahuan penting yang tidak selalu dapat diperoleh melalui pendidikan profesional atau penelitian.
Keterlibatan mereka dapat membantu layanan kesehatan menjadi lebih berpusat pada kebutuhan individu, menghormati hak asasi manusia, dan merespons persoalan yang benar-benar dihadapi pasien.
Peringatan tahun ini juga menyoroti perlunya perubahan dalam sistem perawatan kesehatan mental. Pada 9 Oktober, WHO menerbitkan panduan praktis untuk membantu negara beralih dari perawatan yang berpusat pada rumah sakit jiwa menuju layanan berbasis komunitas.
Pendekatan ini bertujuan memungkinkan orang memperoleh dukungan yang layak sambil tetap terhubung dengan keluarga dan lingkungan sosialnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa lebih dari 80 persen negara masih menyediakan layanan kesehatan mental di rumah sakit psikiatri. Padahal, perawatan berbasis komunitas dapat membantu pasien mempertahankan kehidupan sosial, memperoleh akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, serta menjalani pemulihan dengan lebih bermartabat.
Isu tersebut juga relevan bagi Indonesia. Dalam kisah yang diterbitkan WHO pada 6 Oktober, Anto, seorang penyintas praktik pasung asal Jawa Timur, menceritakan pengalamannya pernah dirantai ketika membutuhkan dukungan kesehatan mental.
Ia kemudian menjalani proses pemulihan, melanjutkan pendidikan, dan menjadi advokat bagi hak-hak orang dengan masalah kesehatan mental.
Pengalaman Anto memperlihatkan bahwa pemulihan tidak hanya berkaitan dengan penanganan gejala, tetapi juga kesempatan untuk membangun kehidupan, menjaga hubungan keluarga, mengembangkan kemampuan, dan berpartisipasi dalam masyarakat.
WHO juga menekankan bahwa pelibatan penyintas harus dilakukan secara bermakna, dengan dukungan yang memadai dan penghormatan terhadap batasan pribadi mereka.
Melalui kampanye ini, WHO mendorong pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan keluarga untuk tidak hanya berbicara tentang pasien, tetapi juga memberi mereka ruang dalam pengambilan keputusan.
Pesan utama Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 adalah bahwa suara orang yang mengalami langsung masalah kesehatan mental harus berkontribusi pada perubahan nyata mulai dari penghapusan stigma hingga terciptanya layanan yang lebih manusiawi, mudah diakses, dan menghormati hak setiap individu.
Editor :Tim Sigapnews
Source : World Health Organization (WHO), United Nations (PBB).