Kabut Asap Karhutla Indonesia Menyebar ke Singapura, Kualitas Udara Memburuk
Petugas memadamkan karhutla di Indonesia
JAKARTA— Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali memengaruhi kualitas udara Singapura. Otoritas setempat melaporkan asap dari Sumatra bagian selatan dan tengah serta Kalimantan Barat bergerak menuju Singapura di tengah kondisi cuaca kering yang meningkatkan risiko penyebaran asap lintas negara.
Berdasarkan pembaruan Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) pada Kamis (8/10/2026), indeks standar pencemar udara 24 jam atau Pollutant Standards Index (PSI) berada pada kisaran 98–139, dari kategori sedang hingga tidak sehat. Konsentrasi partikel halus PM2.5 dalam pengukuran satu jam tercatat 49–128 mikrogram per meter kubik.
NEA memperingatkan bahwa asap berpotensi terus bergerak ke Singapura selama angin bertiup dari arah tenggara atau selatan. Kondisi kering diperkirakan masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatra bagian selatan dan Kalimantan, sehingga meningkatkan risiko berlanjutnya kabut asap.
Kabut asap muncul menjelang Grand Prix Formula 1 Singapura yang berlangsung akhir pekan ini. Federasi Otomotif Internasional (FIA) menyatakan balapan malam tetap direncanakan berlangsung, tetapi kegiatan hiburan luar ruangan dapat dibatasi jika kualitas udara memburuk.
Pihak penyelenggara dan otoritas setempat terus memantau kondisi udara. Langkah antisipasi juga disiapkan untuk melindungi pengunjung, termasuk kemungkinan penyediaan masker N95 dan bantuan medis.
Situasi ini menjadi perhatian karena Grand Prix Singapura menarik banyak penonton dan wisatawan yang menghabiskan waktu di luar ruangan. Paparan kabut asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru.
Reuters melaporkan pada 5 Oktober bahwa kebakaran hutan Indonesia menjadi salah satu sumber kabut asap yang memengaruhi negara-negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura. Meski jumlah titik panas sempat menurun, kelompok lingkungan memperingatkan bahwa kebakaran lahan gambut masih sulit dikendalikan karena api dapat membara di bawah permukaan tanah dan kembali menyala.
Masalah kabut asap lintas batas telah berulang selama bertahun-tahun dan berkaitan dengan kebakaran vegetasi, pengelolaan lahan, serta kondisi cuaca kering. Dampaknya tidak berhenti di lokasi kebakaran, tetapi juga meluas ke kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, pariwisata, dan hubungan antarnegara.
Warga Singapura disarankan mengikuti pembaruan kualitas udara resmi dan mengurangi aktivitas luar ruangan yang berat atau berkepanjangan ketika PSI memasuki kategori tidak sehat. Kondisi udara dapat berubah mengikuti arah angin, hujan, dan perkembangan kebakaran di wilayah sumber asap.
Editor :Tim Sigapnews
Source : National Environment Agency Singapore, Meteorological Service Singapore, Reuters, The Guardian, Fina