Indonesia Dorong Wisata Batik, Turis Asing Diajak Membatik Langsung
JAKARTA – Indonesia mulai mendorong batik naik kelas dari sekadar produk budaya menjadi pengalaman wisata langsung bagi wisatawan mancanegara, dengan mengajak turis mengenal proses pembuatan, filosofi, hingga kehidupan para perajin di sentra batik.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan wisata batik dapat dikembangkan melalui lokakarya membatik, tur ke sentra produksi hingga pengalaman tinggal beberapa hari bersama komunitas perajin. Gagasan tersebut disampaikan Kementerian Pariwisata pada Rabu (30/9/2026).
“Potensi batik sangat menarik karena batik bukan sekadar produk, tetapi juga proses dan filosofi hidup. Ini yang disebut UNESCO sebagai warisan budaya takbenda sejak 2009,” kata Made.
Menurut Kementerian Pariwisata, wisatawan dapat mengikuti workshop membatik sekitar dua jam atau tur setengah hari ke sentra produksi. Konsepnya kemudian dapat diperluas menjadi perjalanan beberapa hari dengan melibatkan perajin lokal secara langsung.
Made mengatakan pengalaman tersebut dapat membawa wisatawan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Wisatawan bisa diajak jalan kaki pelan menyusuri gang kampung, masuk ke rumah perajin satu per satu, lihat canting, pewarnaan, jemuran,” ujarnya.
Dari Produk Menjadi Pengalaman
Pendekatan ini juga diarahkan untuk membuat wisatawan memahami alasan di balik harga dan nilai sebuah batik tulis.
“Wisatawan yang paham filosofi akan lebih menghargai harga batik tulis,” kata Made.
Kementerian Pariwisata merekomendasikan sejumlah daerah sebagai destinasi wisata batik, antara lain Pekalongan, Solo, Sragen, Yogyakarta, Cirebon, Madura dan Jambi. Kampung Batik Kauman dan Laweyan di Solo serta Desa Wisata Batik Giriloyo di Yogyakarta juga telah dikembangkan sebagai destinasi berbasis batik.
Targetnya bukan hanya memperkenalkan batik kepada wisatawan asing, tetapi juga mendorong mereka tinggal lebih lama di sentra batik dan membeli langsung produk perajin lokal.
Kementerian Pariwisata menilai wisatawan dari Asia Tenggara memiliki kedekatan budaya dengan batik, sementara pasar Jepang dan Korea Selatan dinilai potensial karena ketertarikan terhadap keterampilan dan detail. Wisatawan Eropa juga disebut memiliki ketertarikan pada budaya dan slow fashion.
Jika dikembangkan secara konsisten, perjalanan membatik dapat mengubah cara wisatawan asing mengenal Indonesia: bukan hanya melihat kain jadi, tetapi mengalami cerita di balik setiap motifnya.
Editor :Tim Sigapnews
Source : Kementerian Pariwisata RI, ANTARA News, Edukasi dan informasi destinasi batik Kementerian Pariwisata