Algo Sapiens dan Ancaman Hilangnya Kendali Manusia di Era AI
Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers
Perkembangan teknologi digital menghadirkan sebuah paradoks. Mesin pada mulanya diciptakan untuk membantu manusia menyelesaikan persoalan, mempercepat pekerjaan, dan membuat kehidupan lebih nyaman. Namun, ketika kecerdasan buatan dan algoritma semakin menentukan apa yang kita lihat, baca, dengar, bahkan beli, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: masihkah manusia sepenuhnya mengendalikan pilihannya?
Dari kegelisahan inilah istilah algo sapiens menjadi relevan. Manusia tetap memiliki tubuh, emosi, keluarga, agama, dan kehidupan sosial. Namun, sebagian keputusan sehari-harinya perlahan terbentuk dari rekomendasi sistem digital.
Kita memilih berita di internet, tetapi algoritma terlebih dahulu menyusun informasi yang muncul di layar. Kita memilih video, tetapi sistem telah mempelajari kebiasaan tontonan kita. Kita mencari barang, lalu berbagai rekomendasi segera mengikuti. Kemudahan tersebut sering kali tidak terasa sebagai bentuk pengaruh karena tidak hadir dalam bentuk perintah.
Shoshana Zuboff, melalui The Age of Surveillance Capitalism (2018), menjelaskan bagaimana aktivitas manusia dapat diubah menjadi data perilaku. Data itu kemudian digunakan untuk memprediksi tindakan seseorang. Dalam perkembangan berikutnya, sistem bukan hanya memprediksi perilaku, tetapi dapat ikut membentuknya.
Franklin Foer dalam World Without Mind (2017) melihat persoalan dari sisi lain: otonomi pikiran manusia. Ketika informasi yang kita konsumsi terus-menerus diseleksi sistem rekomendasi, ruang untuk menemukan gagasan yang berbeda dapat menyempit.
Di sinilah persoalannya menjadi serius. Manusia masih merasa bebas memilih, tetapi belum tentu menyadari siapa yang menyusun lingkungan pilihannya.
Kondisi tersebut juga berkelindan dengan kecemasan manusia modern. Han Byung-Chul menggambarkan masyarakat kontemporer sebagai masyarakat yang dibayangi rasa takut gagal, tertinggal, kehilangan masa depan, dan kehilangan kendali atas kehidupan sendiri.
Teknologi memang membuat informasi semakin mudah diperoleh. Namun, banjir informasi juga membuat manusia semakin sulit membedakan antara informasi yang benar-benar dicari dan informasi yang sengaja disodorkan kepadanya.
Bagi dunia pers, situasi ini menjadi tantangan penting. Wartawan tidak cukup hanya cepat. Mereka harus mampu melakukan riset, memeriksa sumber, memahami konteks, dan mempertanyakan informasi yang sudah dibentuk oleh algoritma.
Sebab, manusia menjadi manusia bukan karena selalu benar. Manusia justru berkembang karena mampu bertanya, meragukan, mengalami kesalahan, belajar, dan mengambil keputusan secara sadar.
Kecerdasan buatan dapat memiliki kemampuan menghitung dan memprediksi yang semakin tinggi. Namun, intelligence tidak otomatis berarti kebijaksanaan. Mesin dapat mengenali pola masa lalu, tetapi manusia memiliki kemampuan untuk keluar dari pola tersebut.
Jika kemampuan berpikir, merenung, mempertanyakan, dan menentukan arah hidup seluruhnya diserahkan kepada mesin, persoalannya bukan lagi sekadar kehilangan privasi. Yang dipertaruhkan adalah otonomi manusia itu sendiri.
Karena itu, tantangan terbesar era AI bukan sekadar bagaimana membuat mesin semakin cerdas. Tantangan yang lebih penting adalah memastikan manusia tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri.
Penulis: Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers
Editor :Tim Sigapnews
Source : Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers