Mahasiswa Unilak Kepung Rektorat, Tuntut Audit Dana Kampus
Ratusan mahasiswa Universitas Lancang Kuning (Unilak) kembali turun ke jalan dan menggelar aksi demonstrasi jilid II di depan Gedung Rektorat kampus, Rabu (6/5/2026).
PEKANBARU – Ratusan mahasiswa Universitas Lancang Kuning (Unilak) kembali turun ke jalan dan menggelar aksi demonstrasi jilid II di depan Gedung Rektorat kampus, Rabu (6/5/2026). Massa yang tergabung dalam Gerakan Aliansi Mahasiswa Pecinta Unilak (GAMPU) datang membawa spanduk, poster, dan pengeras suara, menuntut keterbukaan pengelolaan anggaran serta audit menyeluruh terhadap sejumlah proyek pembangunan di lingkungan kampus.
Sejak siang, halaman rektorat dipenuhi mahasiswa dari berbagai fakultas. Secara bergantian, para peserta aksi menyampaikan orasi keras yang menyoroti dugaan ketidakberesan tata kelola keuangan kampus yang dinilai selama ini tertutup dari publik, khususnya civitas akademika.
Sorotan utama massa tertuju pada proyek pembangunan turap pagar kampus yang disebut roboh berulang kali bahkan sebelum dimanfaatkan.
Proyek yang diduga menghabiskan anggaran ratusan juta rupiah itu kini menjadi simbol kekecewaan mahasiswa terhadap pengawasan pembangunan di kampus.
Ketegangan semakin meningkat setelah mahasiswa mengungkap informasi bahwa kontraktor yang sama kembali dipercaya mengerjakan proyek pembangunan gedung belajar serbaguna dengan nilai mencapai sekitar Rp10 miliar.
“Kami tidak akan mundur sebelum ada penjelasan langsung dari rektor. Kami menuntut transparansi, ke mana perginya dana mahasiswa dan bagaimana mungkin kontraktor yang dinilai gagal masih diberi proyek,” tegas Munawar Harahap, Jenderal Lapangan GAMPU, dalam orasinya di hadapan massa.
Tak hanya soal proyek fisik, mahasiswa juga mempersoalkan kenaikan biaya pendidikan, mulai dari SPP hingga biaya wisuda, yang dinilai tidak sejalan dengan peningkatan fasilitas maupun kualitas layanan akademik.
Dalam aksinya, mahasiswa mendesak dilakukan audit terbuka terhadap seluruh proyek pembangunan dan kebijakan anggaran kampus. Mereka menilai langkah tersebut penting untuk memulihkan kepercayaan mahasiswa dan masyarakat terhadap institusi pendidikan.
Situasi sempat memanas ketika massa mengetahui pihak kampus yang menemui demonstran bukan rektor, melainkan Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Dr. Hardi. Kehadiran pejabat kampus tersebut belum mampu meredam tuntutan massa.
“Kami datang bukan untuk janji, kami datang untuk jawaban dan data yang bisa dipertanggungjawabkan,” teriak salah seorang mahasiswa dari atas mobil komando.
Hingga aksi berakhir, mahasiswa menegaskan akan terus mengawal tuntutan mereka dan membuka kemungkinan menggelar aksi lanjutan apabila pihak kampus tidak segera memberikan penjelasan resmi serta membuka dokumen penggunaan anggaran secara transparan.
Editor :Tim Sigapnews
Source : Rls