PSPI-BRIN Seleksi Ikan Baung, 25 Persen Terbaik Disiapkan Jadi Calon Induk
PT PSPI bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melanjutkan seleksi ikan baung lokal di Desa Sungai Paku, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Selasa (1/9/2026).
KAMPAR KIRI — PT Perawang Sukses Perkasa Industri (PSPI) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melanjutkan seleksi ikan baung lokal di Desa Sungai Paku, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Selasa (1/9/2026). Dari proses seleksi tersebut, sekitar 25 persen ikan dengan pertumbuhan terbaik dipertahankan sebagai calon induk generasi berikutnya.
Kegiatan berlangsung di kolam yang dikelola Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Alam Bendungan. Dua peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Otong Zaenal Arifin dan Jojo Subagja, turun langsung mengambil sampel sekaligus mengukur ikan hasil uji multilokasi.
Pengukuran mencakup bobot individu, panjang standar, dan panjang total. Data tersebut digunakan untuk melihat pertumbuhan serta kemampuan adaptasi sejumlah kelompok populasi ikan baung yang dikembangkan dalam program domestikasi.
Ikan dengan performa terbaik kemudian dipertahankan sebagai kandidat indukan. Seleksi ini menjadi bagian dari pengembangan benih unggul ikan baung khas Kampar yang diharapkan dapat dibudidayakan masyarakat secara lebih luas.
Kepala Distrik PT PSPI, Rizky, mengatakan pengembangan ikan baung menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam membantu masyarakat membangun sentra perikanan darat berbasis agro-silvofishery di Riau.
“Benih terbaik ini nantinya akan dapat kita sebarluaskan ke masyarakat untuk dibudidayakan sehingga berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat,” harap Rizky.
Program tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama PT PSPI dengan Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN yang telah dimulai melalui perjanjian kerja sama pada 2023. Pengembangan potensi perikanan darat lokal dan teknologi reproduksi ikan baung ditempatkan sebagai bagian dari Program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA), yang salah satu fokusnya mendukung mitigasi masyarakat terhadap risiko Karhutla di sekitar konsesi perusahaan.
Kepala Bidang Perbenihan Dinas Perikanan Kabupaten Kampar, Joko Suroso, menyambut positif pengembangan ikan lokal tersebut. Menurutnya, domestikasi dapat mengurangi ketergantungan pembudidaya terhadap benih yang berasal dari alam.
“Kita berharap kerja sama yang baik ini tidak hanya berhenti sampai di sini. Ke depan kita bisa bekerja sama untuk pengembangan benih ikan jenis lain yang juga merupakan ikan endemik Kampar,” ujar Joko.
Kolaborasi PSPI, BRIN dan Dinas Perikanan Kampar diharapkan menghasilkan benih ikan baung unggulan khas Kampar yang tersertifikasi sekaligus membuka peluang pengembangan komoditas perikanan lokal secara berkelanjutan.
Pengembangan budidaya ikan lokal tersebut juga menjadi bagian dari pendekatan DMPA dalam memperkuat alternatif ekonomi masyarakat sekaligus mendukung upaya pencegahan Karhutla.
Editor :Tim Sigapnews