Mencari Solusi Bersama
Dampak Transportasi Online, Pendapatan Sopir Angkot Purwakarta Anjlok
Juna Sumanta (65), sopir angkot 08 warga Desa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta
PURWAKARTA – Kehadiran transportasi online seperti Grab dan Gojek disebut memukul pendapatan sopir angkot dan ojek pangkalan di Kabupaten Purwakarta.
Sejumlah pengemudi mengaku penghasilan mereka merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir. Keluhan itu mencuat saat ditemui di garasi angkot jurusan Maracang–Pasawahan, Sabtu (28/2/2026).
Juna Sumanta (65), sopir angkot 08 warga Desa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, tampak termenung di samping kendaraannya yang terparkir. Ia mengaku kini lebih sering menunggu penumpang ketimbang mengantar.
“Sebelum ada transportasi online, saya bisa dapat sekitar Rp200.000 per hari. Sekarang paling banyak Rp50.000,” ujar Juna dengan nada lirih.
Menurutnya, penurunan penumpang terjadi karena masyarakat beralih ke layanan berbasis aplikasi yang dinilai lebih praktis dan cepat.
Ia bahkan menyebut beberapa rekannya terpaksa berhenti menarik angkot karena biaya operasional tidak lagi sebanding dengan pemasukan.
Keluhan serupa disampaikan Karman (63), tukang ojek pangkalan di wilayah yang sama. Ia menilai persaingan harga menjadi persoalan utama.
“Kami tidak bisa bersaing dengan tarif yang mereka tawarkan. Mereka lebih murah, sementara kami punya biaya bensin dan setoran harian,” katanya.
Para pengemudi berharap ada kebijakan yang memberi ruang perlindungan bagi angkutan konvensional. Salah satu usulan yang muncul adalah pembatasan zona operasi atau pengaturan izin yang lebih ketat bagi transportasi online.
“Kami ingin pemerintah memberi perlindungan agar kami tetap bisa bekerja dengan aman dan nyaman,” ucap salah satu perwakilan sopir angkot.
Menanggapi hal itu, seorang pejabat pemerintah daerah menyatakan pihaknya membuka ruang dialog dengan seluruh pemangku kepentingan.
“Kami akan mencari solusi terbaik bagi semua pihak. Transportasi online tetap boleh beroperasi, tetapi harus bertanggung jawab dan tidak merugikan masyarakat,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam pola transportasi masyarakat. Di satu sisi, layanan online menawarkan efisiensi dan kemudahan. Di sisi lain, angkutan konvensional yang telah puluhan tahun melayani warga kini terancam tersisih.
Pemerintah daerah berencana menggelar forum diskusi bersama perwakilan sopir angkot, ojek pangkalan, dan aplikator transportasi dalam waktu dekat untuk merumuskan langkah konkret.
Para pengemudi berharap pertemuan itu benar-benar menghasilkan kebijakan yang adil, bukan sekadar wacana.
Editor :Tim Sigapnews