TPA Cikolotok Lumpuh, Antrean Truk Sampah Mengular Dua Bulan
Antrean panjang truk sampah terjadi di TPA Cikolotok, Desa Margasari, Kecamatan Pasawahan, Kamis (16/4/2026).
PURWAKARTA – Antrean panjang truk sampah terjadi di TPA Cikolotok, Desa Margasari, Kecamatan Pasawahan, Kamis (16/4/2026), setelah alat berat utama rusak hampir dua bulan.
Sejak pagi, puluhan truk pengangkut sampah tampak mengular dari pintu masuk hingga ke jalan akses TPA. Sejumlah sopir terlihat duduk dan beristirahat di sekitar lokasi, menunggu giliran bongkar yang tak kunjung tiba.
Kondisi ini dipicu rusaknya alat berat jenis excavator yang selama ini digunakan untuk meratakan dan mendorong tumpukan sampah. Tanpa alat tersebut, proses bongkar muat berjalan lambat dan tidak maksimal.
Dedi (42), sopir truk dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), mengaku harus menunggu hingga 4–6 jam hanya untuk satu kali bongkar.
“Udah hampir dua bulan bekonya rusak. Jadi yang kerja cuma satu, itu juga sewaan. Kami numpuk dari pagi, kadang baru kebagian sore atau malam,” ujarnya di lokasi.
Akibat antrean panjang ini, ritase pengangkutan sampah ikut terdampak. Jika biasanya satu armada bisa melakukan 2 hingga 3 kali pengangkutan per hari, kini hanya mampu satu kali perjalanan.
Dedi menyebut para sopir bahkan harus membawa bekal seperti sedang bepergian jauh karena lamanya waktu tunggu.
“Kalau di dalam mobil terasa panas, jadi kadang kami turun, duduk atau tiduran di rumah warga sekitar,” tambahnya.
Pihak UPTD TPA Cikolotok membenarkan kerusakan alat berat tersebut. Salah satu staf menyebut excavator utama sudah tidak berfungsi sejak Februari 2026.
“Sudah kami ajukan perbaikan ke dinas, tapi masih proses. Sekarang kami hanya mengandalkan satu unit pinjaman,” katanya.
Dampak kerusakan ini mulai dirasakan warga. Selain antrean truk yang memicu kemacetan, bau menyengat dari tumpukan sampah juga semakin terasa di sekitar permukiman.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menilai lambannya penanganan dari DLH berpotensi menimbulkan masalah yang lebih luas.
“Ini sudah dua bulan. TPA itu objek vital. Kalau dibiarkan, sampah di TPS liar pasti menumpuk karena pengangkutan terhambat,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan kekecewaan warga yang mulai mempertimbangkan aksi protes jika kondisi tidak segera ditangani.
Hingga kini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purwakarta belum memberikan tanggapan resmi. Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan, sebelum krisis sampah meluas dan berdampak lebih besar bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Editor :Tim Sigapnews