Kemarau Riau dan Ancaman Karhutla: Saatnya Mengubah Tata Kelola Air
Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., dosen Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu Institut Teknologi Sumatera (ITERA)
PEKANBARU – Kemarau di Riau tidak seharusnya baru menjadi perhatian ketika sumur mulai mengering atau asap kebakaran muncul. Bagi Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., dosen Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu Institut Teknologi Sumatera (ITERA), masa kering justru harus menjadi momentum untuk mengubah cara daerah mengelola air.
Riau memiliki karakter hidrologi yang kompleks. Sungai, rawa, perkebunan dan terutama kawasan gambut saling berkaitan dalam menjaga keseimbangan air. Ketika hujan berkurang dan lahan kehilangan kelembapan, risiko kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ikut meningkat.
“Pencegahan karhutla tidak boleh dimulai ketika api sudah terlihat. Pencegahan harus dimulai ketika kondisi yang memungkinkan api muncul mulai terbentuk,” kata Hakiem.
Menurutnya, gambut menjadi salah satu titik paling krusial. Dalam kondisi basah, gambut mampu menyimpan air dan menopang ekosistem. Sebaliknya, ketika terlalu kering, lahan menjadi jauh lebih rentan terbakar.
Karena itu, pemantauan tinggi muka air, kanal, kelembapan lahan dan curah hujan harus dilakukan secara berkala. Informasi tersebut tidak boleh berhenti sebagai data, tetapi harus diterjemahkan menjadi keputusan cepat.
“Data yang tidak menghasilkan tindakan hanya akan menjadi arsip,” tegasnya.
Hakiem juga menyoroti kebiasaan pengelolaan air di perkotaan. Saat hujan, air sering dipandang sebagai limpasan yang harus segera dialirkan. Ketika kemarau datang, masyarakat justru mencari sumber air.
“Air hujan harus dipandang sebagai sumber daya, bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang secepat mungkin,” ujarnya.
Menurut dia, embung, kolam retensi, tangki pemanenan air hujan, ruang terbuka hijau dan kawasan resapan perlu diposisikan sebagai bagian dari infrastruktur ketahanan air. Pendekatan ini penting, terutama di tengah perkembangan Pekanbaru dan kawasan perkotaan Riau yang terus mengurangi ruang infiltrasi.
Di sektor perkebunan, tata air juga harus disesuaikan dengan kondisi musim. Kanal dan drainase perlu dikelola agar mampu mengendalikan kelebihan air saat hujan sekaligus mempertahankan kelembapan ketika kemarau.
Hakiem menilai masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian penting dari sistem peringatan dini. Warga di sekitar gambut, hutan dan perkebunan dapat menjadi pihak pertama yang mengenali perubahan kondisi lingkungan.
“Teknologi, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sebagai satu sistem. Ketahanan air harus dibangun sebelum krisis terjadi,” katanya.
Bagi Riau, persoalannya bukan sekadar bagaimana menghadapi kemarau, tetapi bagaimana menyimpan air ketika hujan dan mempertahankannya saat dibutuhkan.
“Kita tidak bisa mengatur kapan hujan turun, tetapi kita bisa mengatur bagaimana Riau memperlakukan air yang turun dari langit,” pungkas Hakiem.
OPINI — Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., dosen Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu Institut Teknologi Sumatera (ITERA)
Editor :Tim Sigapnews
Source : Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T