Selat Hormuz Terganggu, Harga Energi Dunia Kembali Tertekan
SINGAPURA – Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz kembali menekan pasar energi dunia ketika jalur penting pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia belum sepenuhnya kembali normal. Harga minyak mentah Brent kembali naik sekitar 1% pada 30 September, setelah pembicaraan Amerika Serikat dan Iran belum menghasilkan kesepakatan yang dapat menjamin pemulihan penuh arus pelayaran.
Brent untuk kontrak November ditutup pada US$103,50 per barel, naik US$0,91 pada perdagangan Rabu. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik US$1,04 menjadi US$90,42 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah harga sempat turun sehari sebelumnya karena adanya tanda-tanda pemulihan ekspor minyak dari Timur Tengah. Brent pada Selasa turun 2,5% menjadi US$102,59 per barel.
Hormuz Belum Kembali Normal
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut membuat pasar terus memperhitungkan risiko pasokan, meskipun sebagian ekspor minyak Teluk mulai pulih.
Reuters melaporkan bahwa analis dalam survei September menaikkan proyeksi rata-rata harga Brent 2026 menjadi US$89,05 per barel, dari US$85,08 pada survei Agustus. Proyeksi tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa gangguan ekspor melalui kawasan Teluk dapat berlangsung lebih lama.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak Teluk telah pulih hingga sekitar 23,3 juta barel per hari, tetapi pemulihan tersebut masih berlangsung di tengah gangguan jalur pelayaran dan konflik regional.
Diplomasi Menentukan Arah Harga
Perkembangan diplomatik antara Washington dan Teheran menjadi salah satu faktor yang paling diperhatikan pasar.
Iran pada 30 September mengatakan telah menerima tanggapan Amerika Serikat mengenai proposal tujuh hari untuk membangun kepercayaan dan membuka kembali Selat Hormuz. Proposal tersebut dibahas melalui mediasi Qatar. Namun, kedua pihak masih berbeda mengenai urutan pelaksanaan langkah-langkah yang diperlukan.
Selama belum ada kepastian mengenai pembukaan kembali jalur tersebut, pasar energi tetap menghadapi premi risiko.
Pada saat yang sama, Arab Saudi mulai memulihkan pengiriman minyak melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah jaringan pipa East-West kembali beroperasi. Pemulihan ini membantu meningkatkan pasokan dan sempat menekan harga minyak pada akhir September.
Dampaknya Bisa Menjalar ke Ekonomi Dunia
Harga minyak yang tinggi tidak hanya memengaruhi perusahaan energi. Kenaikan biaya bahan bakar dapat meningkatkan biaya transportasi, penerbangan, manufaktur dan logistik, yang pada akhirnya dapat menambah tekanan inflasi di berbagai negara.
Reuters mencatat bahwa harga minyak yang tinggi juga mulai memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang. Di India, misalnya, rupee melemah pada September di tengah kekhawatiran terhadap harga minyak mentah dan dampaknya terhadap inflasi.
Dengan demikian, Selat Hormuz kini bukan hanya persoalan geopolitik Timur Tengah. Setiap perubahan arus kapal dan ekspor minyak di kawasan tersebut dapat dengan cepat diterjemahkan menjadi perubahan harga energi di pasar global.
Bagi konsumen di berbagai negara, perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada dua hal: seberapa cepat jalur energi Teluk kembali normal dan apakah diplomasi AS–Iran mampu menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama.
Editor :Tim Sigapnews
Source : Reuters, Associated Press, Al Jazeera, U.S. Energy Information Administration, Goldman Sachs.