Tangis dan Diam di Sidang Putusan Kasus 514 Kg Ganja Pasaman

Suasana sidang putusan terhadap Muhammad Rijalta alias Kajai dan kawan-kawan dalam kasus tindak pidana narkotika seberat 514 kg ganja kering. Senin (21/7/2025)
PASAMAN – Suasana tegang menyelimuti Ruang Sidang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Lubuk Sikaping, Senin siang (21/7/2025), saat Majelis Hakim membacakan vonis untuk Muhammad Rijalta alias Kajai dan lima terdakwa lainnya dalam kasus kepemilikan dan peredaran 514 kilogram ganja kering.
Tim SigapNews yang hadir langsung di lokasi menyaksikan bagaimana para terdakwa menunduk diam, sebagian tampak berkeringat, ketika Ketua Majelis Hakim membacakan kalimat demi kalimat vonis terhadap jaringan pengedar narkotika tersebut.
“Terdakwa Muhammad Rijalta alias Kajai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 114 ayat 2 jo Pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Narkotika. Menjatuhkan pidana penjara selama 20 tahun dan denda Rp10 miliar, subsider 6 bulan penjara,” ucap Hakim Ketua, disambut suara ketukan palu.
Vonis paling berat dijatuhkan kepada Samsul Bahri alias Erwin, yang disebut berperan sebagai penyuplai barang haram tersebut. Ia dihukum penjara seumur hidup. Sementara, Hasimi, yang membantu memuat ganja ke dalam mobil, dijatuhi 15 tahun penjara dan denda Rp5 miliar.
Dua pengemudi mobil, Randi Yufelianda dan Prima Hidayat, masing-masing harus menjalani 12 tahun penjara dengan denda serupa, sementara satu terdakwa lainnya, Zulfi Rahmad Wanda, yang berstatus sebagai penumpang, divonis 10 tahun penjara.
Majelis Hakim menilai seluruh terdakwa bekerja sama dalam jaringan yang terorganisir dan memiliki peran aktif dalam distribusi ganja dalam jumlah sangat besar.
Seusai pembacaan putusan, suasana ruang sidang sejenak hening. Beberapa keluarga terdakwa tampak menitikkan air mata. Di sisi lain, pihak Kejaksaan Negeri Pasaman yang menjadi penuntut umum, serta penasihat hukum dari para terdakwa, kompak menyatakan sikap “pikir-pikir” atas putusan tersebut.
Sebelumnya, kasus ini mencuat setelah tim kepolisian menggagalkan upaya pengiriman ganja kering seberat lebih dari setengah ton yang diduga berasal dari daerah perbatasan Sumatera Barat–Aceh. Penangkapan para pelaku berlangsung dramatis di jalur lintas Sumatera, dan sempat menjadi perhatian nasional.
Sidang yang dikawal ketat oleh petugas keamanan itu menandai akhir dari proses hukum tingkat pertama, namun kemungkinan masih akan berlanjut jika ada upaya banding dari salah satu pihak.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa jaringan narkotika terus bergerak dan menyasar banyak wilayah di Indonesia, termasuk daerah yang sebelumnya dikenal relatif aman dari peredaran narkoba dalam skala besar seperti Pasaman.
Editor :Tim Sigapnews