Ketum Apindo Shinta Kamdani Bongkar Tantangan Ekonomi Indonesia di Forum Paramadina
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani.
JAKARTA - Universitas Paramadina kembali menggelar forum diskusi Meet the Leaders di Auditorium Benny Subianto, Kampus Kuningan, dengan tema “Indonesia Incorporated: Driving Job Creation and Economic Resilience in an Era of Global Uncertainty”, Rabu (10/9/2025).
Diskusi ini menghadirkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani, sebagai pembicara utama.
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., dalam sambutannya menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mungkin dilepaskan dari penguatan sektor riil.
“Pertumbuhan ekonomi itu hanya bisa didorong lewat industri, pertanian, pariwisata. Seperti pernah dilakukan di era Soeharto dengan deregulasi dan debirokratisasi, industri bisa tumbuh 10% dan ekspor 24%, walaupun suku bunga tinggi,” ujarnya.
Dalam paparannya, Shinta menekankan urgensi membangun konsep Indonesia Incorporated sebagai strategi kolektif menghadapi ketidakpastian global.
“Indonesia Incorporated bukan hanya sekadar gotong royong, tapi lebih dari itu. Kita adalah pemegang saham yang punya hak dan kewajiban. Haknya bukan sekadar dividen, tapi juga menyampaikan sesuatu yang bisa dilaksanakan. Kewajiban kita adalah membesarkan korporasi bersama agar bisa sukses dan besar,” tegasnya.
CEO Sintesa Group ini juga menyoroti penurunan daya saing ekspor Indonesia. Nilai tambah produk ekspor yang pada 2000 berada di posisi 54, kini merosot ke peringkat 70 pada 2023.
“Indonesia harus melampaui ketergantungan pada sumber daya alam dan berfokus pada inovasi,” jelasnya.
Shinta juga mengangkat isu ketimpangan gender di dunia kerja. Partisipasi tenaga kerja perempuan hanya 56,42%, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 84,66%.
Dari total populasi 286 juta jiwa, ada 153 juta angkatan kerja aktif yang sebagian besar terdiri atas 69 juta milenial dan 74 juta Gen Z.
“Generasi muda ini lahir sebagai digital native, inovatif, dan adaptif, sehingga harus menjadi motor perubahan,” katanya.
Namun, Shinta mengingatkan masih ada hambatan serius.
“Pada 2024 kebutuhan lapangan kerja mencapai 12,2 juta orang. Lapangan kerja baru yang tersedia hanya 4,4 juta, sementara pengangguran 7,8 juta. Yang terserap hanya 4,8 juta. Ini menunjukkan masalah struktural dalam penciptaan lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Kualitas tenaga kerja juga masih tertinggal. Dari seluruh lulusan, 36,5% hanya berpendidikan SD, sedangkan lulusan S1 baru 12%. Akibatnya, hanya 26% pelaku usaha menilai tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan industri.
Sektor informal juga menjadi pekerjaan rumah. Saat ini hampir 60% pekerja berada di sektor informal, bahkan menurut data ILO bisa menembus 70%.
“UMKM aktif jumlahnya 56 juta, tapi wirausaha sejati hanya sekitar 3,5% dari populasi. Padahal di Thailand sudah 4,8%, sementara Singapura mencapai 11–12%. Entrepreneur sejati adalah mereka yang punya inovasi, bukan sekadar berdagang,” papar Shinta.
Diskusi yang dipandu Wijayanto Samirin, MPP ini menegaskan bahwa tantangan Indonesia bukan hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menyiapkan tenaga kerja berkualitas dan memperbanyak wirausaha inovatif.
Forum Meet the Leaders Paramadina kembali membuktikan dirinya sebagai ruang intelektual yang mempertemukan pemikir, pengusaha, dan akademisi.
Pesan tegas Shinta Kamdani menjadi alarm bahwa tanpa inovasi, investasi pada sumber daya manusia, dan keberanian memperbanyak entrepreneur sejati, Indonesia akan tertinggal dalam kompetisi global.
Editor :Tim Sigapnews