Terjebak Asap Karhutla di Rohil, Rasman Petugas Arara Abadi Selamatkan Rekan
Rasman (35), anggota RPK PT Arara Abadi, bersama rekan-rekannya terkepung asap tebal saat memadamkan karhutla di Rohil.
RIAU — Perubahan arah angin yang mendadak membuat Rasman (35), anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Arara Abadi, bersama rekan-rekannya terkepung asap tebal saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Rokan Hilir, Riau.
Dalam situasi berbahaya itu, ia berlari memperingatkan anggota tim agar segera menyelamatkan diri.
“Saya dan tim terkepung asap tebal karena perubahan arah angin. Demi keselamatan, saya segera berlari mengejar kawan-kawan sambil berteriak agar segera menyelamatkan diri,” tutur Rasman.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu pengalaman paling membekas bagi Rasman, yang bergabung dengan RPK PT Arara Abadi, unit usaha APP Group, sejak 2013. Setelah lebih dari satu dekade menangani karhutla, ia kini dipercaya menjadi bagian dari Tim Reaksi Cepat (TRC).
Pengalaman itu mengingatkannya bahwa kondisi di lokasi kebakaran dapat berubah dalam hitungan menit. Arah angin, ketebalan asap, cuaca, dan medan menjadi faktor yang menentukan keselamatan petugas selama menjalankan pemadaman.
Bagi Rasman, tugas pemadam bukan sekadar mengendalikan api. Koordinasi, kewaspadaan, dan keberanian mengambil keputusan cepat juga menjadi bagian penting untuk melindungi seluruh anggota tim.
Sebagai personel TRC, ia harus siap menerima penugasan sewaktu-waktu, termasuk bekerja jauh dari permukiman dengan akses komunikasi terbatas. Kondisi tersebut membuatnya terkadang sulit menghubungi keluarga selama bertugas.
Keluarga Menunggu di Rumah
Di balik tugas berisiko tersebut, Rasman memiliki istri, Siti Nuraminah (35), dan anak-anak yang menantikan kepulangannya. Nuraminah telah memahami pekerjaan suaminya sejak sebelum mereka menikah, termasuk kemungkinan Rasman harus meninggalkan rumah ketika kebakaran membutuhkan penanganan segera.
Saat Rasman bertugas, Nuraminah pernah tinggal sementara bersama anak-anak di rumah orang tuanya di Muara Pajar, Pekanbaru, untuk mendapatkan dukungan keluarga.
Meski khawatir ketika komunikasi terputus, ia tetap mendukung pekerjaan suaminya. Baginya, upaya mencegah kebakaran meluas juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Bagi saya, itu adalah bagian dari ibadah, karena memadamkan karhutla agar tidak menimbulkan kabut asap adalah bagian dari ibadah,” ungkap Nuraminah.
Pengalaman di Rokan Hilir menjadi pengingat bahwa keselamatan merupakan prioritas dalam setiap operasi pemadaman. Bagi Rasman, keberhasilan bertugas bukan hanya tentang mengendalikan api, melainkan juga memastikan seluruh anggota tim selamat dan bisa kembali berkumpul bersama keluarga.
Editor :Tim Sigapnews