Polri Pakai Drone Thermal dan Teknologi Pendingin Bawah Tanah untuk Atasi Karhutla Gambut
Penangan kebakaran hutan di Kalimantan Selatan bersama polri dan team
BANJARBARU — Polri bersama tim gabungan menerapkan metode baru untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Kalimantan Selatan.
Tak hanya memadamkan api dari permukaan, petugas kini memburu dan mendinginkan bara yang masih tersimpan hingga dua meter di bawah tanah.
Inovasi tersebut diterapkan Polda Kalimantan Selatan di kawasan Pengayuan, Banjarbaru, dengan memadukan drone thermal, sistem pipa undercooling, serta cairan pemadam berbahan dasar Methyl Ester Sulfonate (MES) hasil pengembangan Bidlabfor Polda Kalsel.
Teknologi drone thermal digunakan untuk mendeteksi titik panas yang tidak terlihat secara kasatmata. Setelah titik panas ditemukan, petugas menancapkan pipa hingga sekitar dua meter ke dalam lapisan gambut untuk menginjeksikan cairan pendingin langsung ke sumber panas.
Metode tersebut dipadukan dengan pemadaman dan pembasahan dari permukaan. Dengan demikian, penanganan dilakukan dari dua arah: api dipadamkan dari atas, sementara bara didinginkan dari bawah.
Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan metode tersebut dikembangkan karena karakter lahan gambut memungkinkan panas dan bara bertahan di bawah permukaan meski api di atas tanah telah padam.
“Kita tidak hanya melihat apakah api di permukaan sudah padam. Kita juga perlu mengetahui apakah masih ada panas yang tersimpan di bawah tanah. Drone thermal membantu menemukan titik panas, kemudian sistem undercooling digunakan untuk melakukan pendinginan dari bawah,” ujar Trunoyudo.
Dalam salah satu pengujian, drone thermal mendeteksi suhu tanah gambut mencapai sekitar 120 derajat Celsius. Setelah dilakukan pembasahan permukaan dan injeksi cairan melalui pipa undercooling selama sekitar satu menit, suhu di titik tersebut turun menjadi sekitar 30 derajat Celsius.
Pemantauan ulang juga menunjukkan titik panas yang sebelumnya terdeteksi tidak lagi terlihat.
Trunoyudo menegaskan teknologi tersebut bukan untuk menggantikan metode pemadaman konvensional, melainkan memperkuat kemampuan petugas dalam menghadapi kebakaran gambut.
“Metode konvensional tetap dilakukan. Cara baru ini menambah kemampuan tim, khususnya ketika menghadapi karakter gambut yang memungkinkan bara bertahan di bawah permukaan,” katanya.
Untuk mendukung operasi, Polda Kalsel menyiapkan 3.030 personel sebagai bagian dari 11.681 personel gabungan yang disiapkan menangani karhutla di Kalimantan Selatan.
Khusus di Pengayuan, sekitar 350 personel gabungan dari Polri, TNI, BPBD, Dinas Perkebunan dan Peternakan, perusahaan, serta unsur pendukung dikerahkan dalam tiga shift.
Selain personel, sejumlah sarana disiapkan, antara lain empat drone, 16 kendaraan AWC, enam kendaraan SAR, 31 mesin pompa, lima pompa apung, lima pompa portable, serta berbagai kendaraan operasional.
Cairan pemadam yang digunakan dalam sistem undercooling merupakan formula berbahan dasar MES hasil pengembangan Bidlabfor Polda Kalsel. Sekitar 100 liter formula dapat dicampurkan dengan 12.000 liter air untuk mendukung proses pendinginan dan pembasahan.
Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol. Rosyanto Yudha Hermawan bersama Gubernur Kalsel dan unsur Forkopimda meninjau langsung penerapan metode tersebut di Pengayuan, Rabu (2/9/2026).
Kapolda juga menginstruksikan Bidlabfor Polda Kalsel meningkatkan produksi formula cairan pemadam dan menyiapkan standardisasi sistem pipa undercooling agar dapat digunakan lebih luas oleh Satgas Karhutla.
Trunoyudo menegaskan efektivitas inovasi tersebut akan terus dievaluasi berdasarkan penerapannya di lapangan.
“Kita tidak ingin inovasi hanya menjadi demonstrasi. Ukurannya adalah apakah benar-benar membantu petugas, apakah titik panas lebih cepat diketahui, dan apakah proses pendinginan dapat dilakukan dengan lebih tepat,” ujarnya.
Menurutnya, penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari Polri, TNI, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, instansi teknis, dunia usaha, relawan hingga masyarakat.
Dengan metode tersebut, penanganan karhutla gambut diharapkan tidak berhenti setelah api di permukaan padam. Panas di bawah tanah juga harus ditemukan dan didinginkan agar kebakaran tidak kembali muncul.
Editor :Tim Sigapnews
Source : Humas POLDA METRO JAYA