| | | | | | | | |
| | | | | | | |
 
Dolar As Terhadap Rupiah Makin Marah, Indonesia Bakal Mengalami Krisis.

Dolar AS Masih Tinggi, Indonesia Bakal Krisis?


Ade Irawan Saputra | Ekonomi
Selasa, 11/09/2018 - 22:03:59 WIB
SIGAPNEWS.CO.ID -- JAKARTA -- Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah beberapa waktu ini terus mengalami penguatan. Ini menyebabkan nilai tukar rupiah terus tertekan dan melemah.

Sejumlah kalangan mengembuskan jika melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah ciri-ciri Indonesia akan menghadapi krisis seperti era 1997-1998.

Bank Indonesia (BI) menyebutkan dalam mendiagnosa krisis sebuah negara dibutuhkan banyak indikator. Jadi tak hanya nilai tukar Rupiah yang menjadi acuan.

Apa saja indikatornya? Berikut ulasannya.

1.Tak Sama dengan Krisis 1998

Direktur Eksekutif Departemen Internasional Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi Mengungkapkan : Nilai tukar dolar AS berdasarkan perdagangan Reuters pukul 10.51 WIB tercatat Rp 14.864. Kemudian dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) tercatat Rp 14.835.
Direktur Eksekutif Departemen Internasional Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi menjelaskan saat ini kebanyakan orang masih melihat perkembangan nilai tukar sebagai indikator krisis.

Doddy menjelaskan nilai tukar itu adalah salah satu contoh indikator ekonomi, nilai tukar ini harga relatif yang tidak bisa dilihat pada suatu angka tertentu karena nilai tukar memiliki nilai absolut.

"Misalnya begini, angka Rp 15.000 sekarang dan Rp 15.000 20 tahun lalu itu berbeda. Begitupun ke depannya akan berbeda. Ya setiap negara selalu berharap nilai tukar mata uangnya selalu kuat," kata Doddy dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, di Kominfo, Jakarta, Senin (10/9/2018).

Dia menjelaskan untuk nilai tukar seperti saat ini banyak yang mengartikan kondisi sedang buruk. Padahal untuk menentukan sebuah krisis ada banyak indikator, sedangkan nilai tukar harus dilihat dari angka psikologisnya.

Doddy menambahkan, di beberapa negara seperti Australia, Korea Selatan, Malaysia dan Thailand juga memiliki pergerakan nilai tukar yang fluktuatif. Namun masyarakatnya tidak pernah menggembar-gemborkan menjadi berita besar.

"Negara-negara itu nilai tukarnya tidak pernah menjadi berita besar. Kecuali perubahannya sangat signifikan, karena orang di sana terbiasa liat pergerakan-pergerakan kecil sebagai angka psikologisnya," ujar dia.

Kemudian, yang harus diperhatikan dalam melihat nilai tukar rupiah adalah dilihat dari cepatnya perubahan. Misalnya pada era 1997-1998 nilai dolar AS harganya tercatat Rp 2.500 dan bergerak liar hingga menjadi Rp 16.000.

Namun saat ini, dolar memang bergerak tapi masih dalam kondisi terjaga karena dari Rp 13.500 dan mendekati Rp 15.000 dalam jangka waktu tujuh hingga delapan bulan.

"Karena kalau pergerakannya sangat cepat seperti 97-98 itu akan pengaruh ke balance sheet perusahaan. Sekarang tidak begitu. Jadi jika melihat nilai tukar harus juga melihat yang lain," ujar dia.

Doddy menyampaikan, indikator ekonomi nasional antara 98 dan 2018 ini sangat berbeda. Misalnya angka inflasi mencapai 77%, suku bunga acuan 56%, cadangan devisa hanya US$ 23 miliar, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) bank 30% dan jumlah utang luar negeri (ULN) yang memang berbeda.

"Jadi begitu banyak indikator, dan ketahanan ekonomi Indonesia ini lebih kuat dari 1997-1998," imbuh dia.

Kondisi ekonomi Indonesia ini juga tak lepas dari kondisi ekonomi dunia yang memang sedang melambat. Pertumbuhan ekonomi dunia sedang berat, ia mengibaratkan dunia adalah pesawat yang terbang hanya dengan satu mesin. Sehingga menyebabkan kesulitan, nah kondisi inilah yang turut mempengaruhi ketahanan ekonomi negara berkembang seperti Indonesia.

Kemudian, ancang-ancang The Federal Reserve yang akan menaikkan bunga acuan turut mempengaruhi aliran modal ke negara-negara berkembang.

2.Bandingkan dengan Negara Lain
Direktur Eksekutif Departemen Internasional BI, Doddy Zulverdi menjelaskan dalam melihat nilai tukar terhadap mata uang lain tak bisa hanya dari satu sisi saja.

"Lihatlah nilai tukar juga dengan nilai tukar mata uang negara lain, ada perbandingan. Jangan lihat nilai tukar itu hanya pada level psikologis, tapi juga lihat seperti harga barang dan jasa serta ada perubahan atau tidak," kata Doddy dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, di Kemenkominfo, Jakarta Pusat, Senin (10/9/2018).
Dia mengungkapkan, jika perubahan suatu nilai tukar tidak terlalu cepat dan signifikan jangan diartikan bahwa sebuah negara sedang mengalami krisis.

"Bandingkan dengan negara pesaing atau negara yang setara. Kalaupun faktanya sekarang kita lihat melemah (rupiah), tapi kan masih jauh lebih baik daripada negara-negara seperti Turki dan Argentina," imbuh Doddy.

Doddy menjelaskan, perubahan nilai tukar yang cepat akan mempengaruhi dunia usaha. Seperti yang terjadi pada 1998. Saat itu biaya produksi perusahaan, biaya impor sangat tinggi dan turut mempengaruhi ekonomi Indonesia.

"Jadi idealnya bagi pelaku ekonomi dan masyarakat umum serta korporasi jangan kemudian terperangkap dengan melihat nilai tukar saja. Tapi juga lihat indikator lainnya," jelas dia.

Pergerakan dari level Rp 13.500 ke Rp 14.500 dinilai masih cukup baik dan tidak terlalu besar jika dibandingkan negara pesaing.

Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter secara penuh mendukung langkah yang ditempuh pemerintah dalam mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan.

Dalam dinamika harian, BI akan tetap konsisten dan sekuat tenaga untuk melindungi rupiah dari pelemahan yang cepat dan tajam, serta akan terus memastikan pergerakan likuiditas dan efisiensi di pasar valuta asing Indonesia tetap terjaga.

3.Awal Mula Rupiah Keok Lawan Dolar AS
Untuk negara berkembang, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan terjadi pelemahan mata uang negara-negara berkembang sejak 2013.
"Intinya kan disampaikan bahwa gejolak kurs itu kan emang dialami banyak negara berkembang sejak 2013," kata Mirza di gedung DPR, Jakarta, Senin (10/9/2018).

Mirza mengatakan, penyebab pelemahan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang termasuk rupiah adalah suku bunga Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate (FFR).

Kemudian, faktor selanjutnya adalah perang dagang AS dengan China. Bahkan negeri Tirai Bambu itu merespon dengan melemahkan kurs dan ekonominya.

"Kalau Tiongkok melemahkan kursnya, kurs negara lain juga ikut melemah kan. Turki dan Argentina yang juga pemulihan ekonominya tidak baik sehingga kemudian Turki dan Argentina menimbulkan sentimen di emerging market," jelas dia.

Kejadian tersebut, kata Mirza membuat arus modal atau capital inflow ke negara berkembang menjadi sedikit karena adanya penilaian yang sama di mata investor terhadap negara berkembang.

Untuk menahan pelemahan ini, Mirza mengungkapkan pemerintah harus memperbaiki neraca perdagangan yang masih defisit. Beberapa langkah pemerintah pun sudah dilakukan seerti implementasi pemanfaatan biodiesel 20% (B20), penundaan beberapa proyek ketenagalistrikan.

"Nah itu juga diharapkan bisa mengurangi impor minyak. Karena kan neraca ekspor impor minyak kita kan juga defisit. Nah jadi dr sisi upaya pemerintah saya rasa kita harus apresiasi, " ungkap dia.

4.Ekonomi RI Masih Kuat
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak akan membuat Indonesia krisis seperti 1998.
"Nggak perlu dikhawatirkan karena negara lain juga melemah," kata Mirza digedung DPR, Jakarta, Senin (10/9/2018).

Mirza menjelaskan rupiah bukan mata uang sendiri yang melemah terhadap dolar AS,mata uang negara-negara berkembang lainnya pun ikut melemah.

"Bahkan jauh lebih daripada kita. Negara seperti Australia juga melemah sama dengan kita, negara Selandia Baru juga melemah sama seperti kita," jelas dia.

Pelemahan nilai tukar rupiah juga masih terbilang tidak terlalu dalam dibandingkan negara berkembang lainnya seperti Turki dan Argentina.

Menurut Mirza, mata uang rupiah masih tertolong oleh fundamental ekonomi nasional yang baik. Oleh karenanya, kondisi perekonomian tanah air masih aman.

"Jadi tidak menjadi sesuatu yang perlu dikhawatirkan karena fundamental ekonomi kita kuat. (masih) Aman," tutup dia.

5.Bank Dunia Nilai BI Responsif

Menurut World Bank (Bank Dunia), pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) responsif dalam menghadapi pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
"Saya kira respons pemerintah sangat bagus, dalam arti bahwa kabinet bekerja sama dengan Bank Sentral, kata Country Director World Bank for Indonesia, Rodrigo A Chaves saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta Pusat, Senin (10/9/2018).

Di menilai BI sebagai bank sentral bisa tetap bersikap independen dalam menyikapi pelemahan rupiah. Meski demikian, di sisi lain BI dan pemerintah bisa bekerja sama dengan baik menghadapi situasi tersebut.

Dia melihat pemerintah dan BI fokus terhadap dua faktor dalam meredam gejolak dolar AS, yakni defisit fiskal, dan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

"Defisit fiskal dan CAD, saya pikir mereka merespons dengan sangat kredibel, dan pendekatan yang sangat baik," ujarnya.

Menurut Rodrigo pelemahan rupiah lebih dikarenakan faktor eksternal, sedangkan Indonesia saat ini dalam koridor positif.

"Ini bukan masalah Indonesia, karena beberapa faktor lain mengira Indonesia stabil karena memiliki dasar-dasar yang baik dan fungsi respons kebijakan publik yang baik," tambahnya.

(Detik.com)





Berita Lainnya :
 
  • Seleksi Perangkat Desa Rambah Dinilai Tidak Transparan, Peserta Minta Panitia Pelaksana Tes Ulang
  • Bupati Inhil Jenguk Indra Muchlis Adnan Di RSUD Puri Husada Tembilahan
  • Peringatan 10 Muharram 1440 Hijriyah, Pemdes Sialang Rindang Gelar Istighosah dan Tabligh Kabar
  • Gubernur Sumbar Ajak Generasi Muda Jadikan Gerakan Pramuka Sebagai Rumah Kita
  • Tim Ekspedisi Jalur Darat 34 Gubernur Kunjungi Sumbar
  • Gubernur Sumbar Lantik Pasangan Deri Asta-Zohirin Sayuti Sebagai Walikota-Wakil Walikota Sawahlunto
  • Terkait Kasus "Penolakan GP Ansor" di Riau, LAMR Tetap Inginkan Harmonisasi
  • Lagi-lagi Narkotika, Warga Mahato Di Ciduk Polisi Dirumah Warga Ahmad Efendi
  • Polsek Kota Pekanbaru Berbagi dengan Warga Kurang Mampu dalam Giat Jumat Barokah
  •  
     
     
     
     
     
     
    Polri dan Mitra Litas Daerah  
    -Mitra Polri   Provinsi Riau Utama
    -Polda Riau -Polresta Pekanbaru -Polres Inhil -Kota Pekanbaru -Kab. Inhil -Nasional -Pendidikan
      -Polres Dumai -Polres Rohul -Kota Dumai -Kab. Rohul -Politik -Hiburan
      -Polres Kampar -Polres Rohil -Kab. Kampar -Kab. Rohil -Ekonomi -Pertanian
      -Polres Bengkalis -Polres Kuansing -Kab. Bengkalis -Kab. Kuansing -Hukrim -Advertorial
      -Polres Pelalawan -Polres Siak -Kab. Pelalawan -Kab. Siak -Sosial -Lensa Foto
      -Polres Inhu -Polres Meranti -Kab. Inhu -Kab. Meranti -Budaya -Foto
    About Us - Redaksi - Pedoman Media Siber - Info Iklan - Disclaimer - Index
    Copyright © 2015-2017 PT. MEDIA SIGAP INDONESIA, All Rights Reserved